Mendengar lagu Tulus yang sedang hype
akhir-akhir ini, aku jadi banyak merenungi diri sendiri. Bukan karena ada yang
hilang dariku belakangan, tapi sepertinya memang jiwaku yang sebenarnya sudah
sejak lama terpendam.
Aku lulus SMA sejak sepuluh tahun lalu, kemudian mendaftar SBMPTN di kampus yang cukup masyhur di
sini. Aku mendaftar sendiri tanpa memberitahu siapa pun, termasuk orang tua.
Tapi apa yang terjadi selajutnya? Orangtuaku tidak menyanggupi biaya kuliahku
dengan alasan adikku harus masuk pesantren. Mereka memintaku untuk membiayai
pendidikanku sendiri hingga akhirnya aku mundur dan mulai mencari kegiatan yang
lebih bermanfaat lagi.
Di pertengahan tahun 2018, akhirnya aku kuliah
jalur beasiswa di
kampus yang berbeda. Yeay,
aku senang sekali. Karena selain tidak perlu memikirkan UKT, aku juga dapat
tambahan uang saku bulanan yang lumayan.
Singkat cerita aku lulus dengan gelar sarjana
pendidikan. Aku tidak tahu untuk apa gelar sarjana itu. Rasanya tidak pernah
ada yang bangga dengan pencapaianku. Tidak ada yang memujiku atas apa yang
sudah aku perjuangkan dan aku dapatkan.
Lalu kemudian aku berpikir lagi, apakah aku
tidak cukup membanggakan? Karena kurasa, orang
tuaku tidak cukup bangga memiliki anak sepertiku. Mereka membanggakan
anaknya yang lain. Yang punya keahlian, yang pandai mendapatkan sejumlah uang. Sedang
aku? Bahkan di usia ke-28 tahun ini, aku baru sadar, bahwa sebenarnya, gelar
sarjana pendidikan itu semata hanya karena menuruti kemauan mereka untuk melanjutkan
cita-cita yang katanya sempat tertunda.
Kenapa orang tua mewajibkan anaknya untuk
meneruskan mimpi mereka padahal kita juga punya cita-cita? Aku merenung cukup lama. Sebab meski aku
adalah satu-satunya anak mereka yang berhasil bertahan melanjutkan cita-cita
lama itu, tetap saja bukan aku yang menjadi nomor satu.
Aku tidak pernah ingin menjadi no.1, sama sekali
tidak. Aku hanya sedikit kecewa kenapa hanya aku saja yang selalu diungkit kesalahannya,
sedang yang lain, hal-hal baiknya sajalah yang dijadikan bahan cerita.
2026.
Tahun ini aku kembali tergiur dengan program
beasiswa. Tapi sayangnya ini beasiswa S1. Orang-orang menyayangkan kenapa aku
tidak mengambil S2 saja untuk melanjutkan yang sudah ada. Aku hanya menjawab seadanya.
Aku ambil ini karena beasiswa, aku belum ada motivasi untuk melanjutkan S2, dan
jawaban-jawaban template lainnya.
Sebenarnya juga aku bertanya-tanya, kenapa aku harus
mengulang S1 lagi meski dengan jurusan yang berbeda, padahal aku bisa meneruskan
saja pendidikanku ke jenjang selanjutnya. Apa memang karena aku sungguh ingin
belajar, atau lagi-lagi
aku hanya ngin membuat orangtuaku bangga?
Beberapa malam aku terjaga. Meratapi diri, mencari
yang hilang seperti kata Tulus. Tidak ada yang hilang dariku belakangan. Karena yang hilang itu ternyata sudah satu dekade lamanya. Bukan hanya akhir-akhir ini
saja.
Jam 2 pagi aku sibuk memikirkan apa sebenarnya
yang sedang aku kejar. Aku memikirkan cita-citaku sendiri. Aku menangis sebab
aku sudah lupa apa yang aku cita-citakan.
Aku sibuk menghidupkan cita-cita orangtuaku sampai
aku kehilangan cita-citaku sendiri, tapi sepatah kata bangga pun tak pernah mereka lontarkan.
Lama sekali aku menangis sampai benar-benar kutemukan
jawabannya. Ternyata dulu aku ingin sekali kuliah jurusan sastra inggris, ingin
jadi penerjemah, ingin jadi tour guide, dan yang masih relevan dengan itu.
Hari ini aku kembali mengambil jurusan yang sama
sekali tidak relevan dengan apa yang dulu aku perjuangkan. Aku dilema antara 2
pilihan. Mengambil prodi Hukum Ekonomi Syariah, atau Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Aku
suka keduanya. Tapi aku khawatir kesulitan jika harus menyelam ke dalam lautan
perekonomian. Hehe.
Dengan melalui istikharah dan pencarian yang cukup
panjang, akhirnya aku memutuskan. Mungkin Al-Quran dan Tafsir menjadi
satu-satunya prodi yang cukup mudah untuk ditaklukkan.
Sampai pada satu titik, aku berpikir lagi. Apakah
selama ini kita yang selalu diikuti oleh kemudahan-kemudahan, atau kita yang
hanya berani mengambil hal-hal yang mudah-mudah saja?
Sekian.
Saya berharap kalian hanya sekedar membaca, lalu
melupakan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar