About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Minggu, 06 September 2026

Sebenarnya Untuk Apa?

 

Mendengar lagu Tulus yang sedang hype akhir-akhir ini, aku jadi banyak merenungi diri sendiri. Bukan karena ada yang hilang dariku belakangan, tapi sepertinya memang jiwaku yang sebenarnya sudah sejak lama terpendam.

Aku lulus SMA sejak sepuluh tahun lalu, kemudian mendaftar SBMPTN di kampus yang cukup masyhur di sini. Aku mendaftar sendiri tanpa memberitahu siapa pun, termasuk orang tua. Tapi apa yang terjadi selajutnya? Orangtuaku tidak menyanggupi biaya kuliahku dengan alasan adikku harus masuk pesantren. Mereka memintaku untuk membiayai pendidikanku sendiri hingga akhirnya aku mundur dan mulai mencari kegiatan yang lebih bermanfaat lagi.

Di pertengahan tahun 2018, akhirnya aku kuliah jalur beasiswa di kampus yang berbeda. Yeay, aku senang sekali. Karena selain tidak perlu memikirkan UKT, aku juga dapat tambahan uang saku bulanan yang lumayan.

Singkat cerita aku lulus dengan gelar sarjana pendidikan. Aku tidak tahu untuk apa gelar sarjana itu. Rasanya tidak pernah ada yang bangga dengan pencapaianku. Tidak ada yang memujiku atas apa yang sudah aku perjuangkan dan aku dapatkan.

Lalu kemudian aku berpikir lagi, apakah aku tidak cukup membanggakan? Karena kurasa, orang tuaku tidak cukup bangga memiliki anak sepertiku. Mereka membanggakan anaknya yang lain. Yang punya keahlian, yang pandai mendapatkan sejumlah uang. Sedang aku? Bahkan di usia ke-28 tahun ini, aku baru sadar, bahwa sebenarnya, gelar sarjana pendidikan itu semata hanya karena menuruti kemauan mereka untuk melanjutkan cita-cita yang katanya sempat tertunda.

Kenapa orang tua mewajibkan anaknya untuk meneruskan mimpi mereka padahal kita juga punya cita-cita? Aku merenung cukup lama. Sebab meski aku adalah satu-satunya anak mereka yang berhasil bertahan melanjutkan cita-cita lama itu, tetap saja bukan aku yang menjadi nomor satu.

Aku tidak pernah ingin menjadi no.1, sama sekali tidak. Aku hanya sedikit kecewa kenapa hanya aku saja yang selalu diungkit kesalahannya, sedang yang lain, hal-hal baiknya sajalah yang dijadikan bahan cerita.

 

2026.

Tahun ini aku kembali tergiur dengan program beasiswa. Tapi sayangnya ini beasiswa S1. Orang-orang menyayangkan kenapa aku tidak mengambil S2 saja untuk melanjutkan yang sudah ada. Aku hanya menjawab seadanya. Aku ambil ini karena beasiswa, aku belum ada motivasi untuk melanjutkan S2, dan jawaban-jawaban template lainnya.

Sebenarnya juga aku bertanya-tanya, kenapa aku harus mengulang S1 lagi meski dengan jurusan yang berbeda, padahal aku bisa meneruskan saja pendidikanku ke jenjang selanjutnya. Apa memang karena aku sungguh ingin belajar, atau lagi-lagi aku hanya ngin membuat orangtuaku bangga?

Beberapa malam aku terjaga. Meratapi diri, mencari yang hilang seperti kata Tulus. Tidak ada yang hilang dariku belakangan. Karena yang hilang itu ternyata sudah satu dekade lamanya. Bukan hanya akhir-akhir ini saja.

Jam 2 pagi aku sibuk memikirkan apa sebenarnya yang sedang aku kejar. Aku memikirkan cita-citaku sendiri. Aku menangis sebab aku sudah lupa apa yang aku cita-citakan.

Aku sibuk menghidupkan cita-cita orangtuaku sampai aku kehilangan cita-citaku sendiri, tapi sepatah kata bangga pun tak pernah mereka lontarkan.

Lama sekali aku menangis sampai benar-benar kutemukan jawabannya. Ternyata dulu aku ingin sekali kuliah jurusan sastra inggris, ingin jadi penerjemah, ingin jadi tour guide, dan yang masih relevan dengan itu.

Hari ini aku kembali mengambil jurusan yang sama sekali tidak relevan dengan apa yang dulu aku perjuangkan. Aku dilema antara 2 pilihan. Mengambil prodi Hukum Ekonomi Syariah, atau Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Aku suka keduanya. Tapi aku khawatir kesulitan jika harus menyelam ke dalam lautan perekonomian. Hehe.

Dengan melalui istikharah dan pencarian yang cukup panjang, akhirnya aku memutuskan. Mungkin Al-Quran dan Tafsir menjadi satu-satunya prodi yang cukup mudah untuk ditaklukkan.

Sampai pada satu titik, aku berpikir lagi. Apakah selama ini kita yang selalu diikuti oleh kemudahan-kemudahan, atau kita yang hanya berani mengambil hal-hal yang mudah-mudah saja?

 

 

Sekian.

Saya berharap kalian hanya sekedar membaca, lalu melupakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...