About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.
Tampilkan postingan dengan label 30haribercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30haribercerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2021

Perihal Doa; Akal Kita yang Terbatas, Tidak Mampu Memahami 'Maksud Tuhan' yang Begitu Luas

"Eksistensi sebuah doa sebenarnya ada pada pengakuan diri bahwa kita ini lemah. Kita butuh kepada Allah, dan mengakui bahwa hanya Dialah yang mampu mendengar doa-doa kita. Itulah kenapa tidak semua doa dikabulkan-Nya. Tapi semua doa pasti mendapat respon-Nya. Mendapat jawaban-Nya."

Dua hari saya berdiskusi perihal doa. Bertanya tentang pernyataan di atas. Karena begini, dalam prakteknya,  jika doa itu dilakukan sebagai bentuk penghambaan, seseorang seharusnya cukup dengan mengadukan permasalahannya saja, meminta kebutuhannya saja, atau apapun yang ingin ia adukan pada Tuhannya. Setelah itu, bukankah mengingat Allah hati menjadi tenang? Lalu kenapa kita gencar berdoa dengan hajat yang bergelimang lalu resah karena setiap detik menunggu semuanya dikabulkan?

Kalau ada perasaan 'memaksa', bahwa Tuhan harus mengabulkan doa kita dan lantas kecewa saat semua yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita pinta, bukankah hilang esensi menghamba?
Jadi, kita menghamba pada siapa?
Tuhan, atau ego manusia kita?

Saya mendapat satu penjelasan yang cukup sederhana tapi luar biasa, hal ini ternyata adalah yang sering kita lupa. Bahwasanya manusia itu sifatnya maratib, secara bahasa artinya bertingkat. Para Ulama Tasawwuf sepakat akan hal ini. Bertingkat di sini maksudnya adalah setiap individu itu tidak sama. Tingkatan ilmu, iman dan fahamnya berbeda, dari level paling sederhana sampai level 'Alim 'Ulama.

Maka perihal doa ini, orang-orang awam seperti kita memang seringkali menengadah sambil memaksa. Mengaharap tapi kemudian kecewa. Dan untunglah para alim tak segan-segan membagikan pemahamannya. Tapi bukankah itu artinya kita tidak boleh berhenti belajar dan bertanya?

Dan, hey! Bukankah Allah lebih dekat kepada orang bodoh yang semangat belajar dari pada si alim yang sombong hatinya?

Lalu, kembali laptop. Kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa seorang hamba itu semestinya/ada baiknya sadar bahwa seusai berdoa, apapun yang menjadi takdirnya, itu adalah jawaban dari doa-doanya. Akal kita yang terbatas tidak mampu memahami 'maksud Tuhan' yang begitu luas. Takdir kita hari ini adalah jawaban doa kita kemarin, bahkan doa kita beberapa tahun yang lalu. Dan boleh jadi, efeknya bisa berlanjut sampai bertahun kemudian. Nah, itulah jawaban dari doanya. Hanya kadang kita tidak sadar. Kita merasa doa-doa kita belum dikabul, padahal itulah jalan terbaik atas pengabulannya.

Seperti ungkapan Ibn 'Athailah Assakandari dalam kitab Hikam-nya:

ربما أعطاك فمنعك، و ربما منعك فأعطاك، و متى فتح لك باب الفهم في المنع، فصار المنع عين العطاء.



Semuanya terlihat sederhana, bahkan Air mata tidak bisa membeli takdir-Nya. Kecuali air mata takwa, yang itu bisa membeli surga.

Senin, 06 Desember 2021

Suatu Hari Sebelum Hari ini (3)

Aku tak begitu mengenalnya. Ia mungkin sosok pendiam, atau sebaliknya. Atau pendiam sekaligus juga cerewet pada orang yang berbeda. Kawan-kawan sering menyebut laki-laki di hadapanku ini sangat anti wanita. Dingin, dan tak ada satu pun kontak perempuan di whatsappnya. Kalaupun ada, ya itu hanya aku. Itulah kenapa, seringkali mereka bertanya tentang hubunganku dengan pria aneh ini.
Bukan hanya kawan sejawat, adiknya sendiri juga berkata hal serupa. Tidak ada kontak perempuan di whatsappnya kecuali aku. Mungkin maksudnya selain ia dan ibunya. Tapi ah, mana aku peduli.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, sesekali menjawab pertanyaan. Ia tak begitu pendiam, tapi perjalanan menjadi amat panjang. Kupikir hanya perasaanku saja karena canggung, ternyata memang ia membawaku jauh dari titik pertemuan kami. Aku hanya diam, menunggunya memarkirkan sepeda motornya. Tapi kami malah berbelok masuk ke pekarangan suatu masjid. Aku ingat kami belum shalat ashar. Lama sekali aku menunggunya, ternyata.

Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan perjalanan tapi kedai kopi (kafe) baru yang ia janjikan masih belum juga kelihatan. Aku semakin tak sabar karena kali ini kami sudah keluar Jakarta dan masuk Kota Tangerang. Kulihat-lihat daerah yang kami masuki ini tidak jauh dari pesantrenku, tempat yang baru saja kukunjungi. Kenapa dia tidak bilang saja bahwa kafenya dekat sini? kan aku tidak perlu jauh-jauh putar balik ke Jakarta dan menunggu lama. Tapi, ah, takdir memang senang sekali bercanda.

Kami berputar-putar, tersasar. Ia lalu membuka ponselnya membuka aplikas peta penunjuk jalan. Aku memperhatikannya kebingungan. Aku lebih bingung lagi karena ia ternyata bukan membawa kami ke kafe yang pernah ia sebutkan. Sampai pada suatu kedai, sepeda motornya ia parkirkan.

                         "KOPI JANJI JIWA"

Loh, ini dekat sekali dengan pesantrenku. Batinku. Tapi aku tidak mengatakannya. Aku membiarkan semua berjalan seperti apa adanya saja.

Kami lalu memesan dua kopi yang berbeda, aku tertarik Avocado Coffee yang entah apa nama aslinya. Setelah membuat pesanan, kami mencari tempat yang nyaman untuk bertukar pikiran, atau hanya sekedar berbincang. Ia memilih teras dan segera kuiyakan. Kudapati semburat senja kekuningan. Menampar wajahku yang kaku menunggu lelaki bermata bulat ini memulai perbincangan. Sampai pesanan kami datang, ia membukanya dengan basa-basi membahas rasa kopi.

Semakin sore, obrolan kami sudah ke sana kemari. Langit menyajikan warna merah jingga, dan hamburan cahaya oranye di sekitarnya. Laki-laki di hadapanku ini semakin semangat bercerita. Aku senang ia menumpahkan kegundahannya padaku, meski aku tak tahu apakah aku satu-satunya, atau hanya salah satunya. Hehe, aku tidak baper, ini hanya pemanis saja.

Lihatlah, di tengah keluh kesahnya, aku malah melamun menikmati suasana.

Ada 3 elemen yang aku suka.
Aku suka senja,
Aku suka kopi,
Dan aku suka kamu.
Lalu hari ini, Semesta  menyajikan semuanya di hadapanku.
Ia membuatku menghabiskan senja, dengan secagkir kopi bersama kamu.

Sambil menulis puisi itu, kulukis juga semburat senja dan secangkir kopi dalam buku harianku. Hanya dua elemen itu. Karena wajahnya, aku sudah hafal sekali. Aku melukisnya dalam ingatanku sejak pertama kali kami bertemu. Ia sahabat baikku.

***

Pertemuan selesai meski obrolan kami sebenarnya masih belum usai. Kopiku tersisa banyak, aku tak menyangka akan sepahit ini. Untunglah, teman ngopiku tidak ikut menceritakan hal-hal pahit dan aku masih bisa menikmatinya dengan senyum (yang dipaksakan) manis.

Kami beranjak dari kedai kecil itu. Dia mengantarku ke stasiun terdekat. Masih kunikmati langit yang tak lagi biru. Ia lalu menjelaskan alasan kenapa membawaku ke kedai barusan, bukan kafe yang pernah ia janjikan. Aku menerima alasannya. Ia memang anak baik.

Hampir maghrib ketika kami sampai di stasiun. Ia langsung pamit pulang. Setelah kupastikan punggungnya menghilang, sisa kopi yang masih lebih dari setengahnya itu lalu kubuang. Pahiittt. Itu akan merusak moodku sampai malam.

Aku check in dan mengeluarkan ponsel menelpon seseorang. Ia yang berkeliling Jakarta sejak pagi tadi. Aku memintanya menunggu di stasiun Gr*gol. Hanya melewati dua stasiun dari tempatku sekarang berdiri.
Setelah sampai, aku melihatnya berdiri bersandar. Mungkin ia kelelahan. Kuhampiri ia yang segera mengulurkan tangan. Kutolak. "Aku punya wudhu," dalihku.

Adzan maghrib berkumandang lalu kami berjalan mencari masjid sambil berbincang ringan. Ia begitu santai, tapi aku, begitu kentara menampakkan rasa tidak nyaman.

Laki-laki yang baru saja menyelesaikan shalatnya ini, sebenarnya adalah sahabat si mata bulat. Aku tak memberi tahunya bahwa orang yang barusan kutemui, yang menemaniku minum kopi, adalah sahabatnya sendiri. Aku juga tak mengabarkan si mata bulat bahwa setelah ini, dengan sahabatnyalah aku membuat janji. Kupikir, itu sungguh tidak penting. Mereka hanya akan membahas hari ini suatu saat nanti.

Seusai shalat ia memesan taxi online dengan tujuan restoran ayam yang itu berati aku harus makan. Aduh, aku tak bisa menolak tapi aku juga masih kenyang. Lalu kami hanya berbincag sambil kunikmati kulit ayamku. Tak kuhabiskan.
"Kenapa nggak bilang kalau nggak mau makan?" tanyanya.
"Hehe," sambil berlalu ke westafel dan mencuci tangan, aku hanya menjawabnya cengengesan.
Tak ingin berlama-lama, aku menagih sesuatu, barangku yang ia pinjam. Tapi ia lagi-lagi beralasan. Entah benar atau tidak. Tapi, kalau barangnya memang tidak ada, bukankah ia bisa memberitahuku dari awal saja? Lalu aku merasa terjebak.

Aku lalu pulang dengan perasaan geram. Ia menangkap ketidaknyamanan sejak awal petemuan. Di jalan, di masjid, di taxi, di restoran, sampai di jalan pulang. Biarlah, biar dia sadar bahwa ia memang menakutkan.

Seingatku, itu adalah terakhir aku sengaja menemuinya. Sampai hari ini. Tidak ada pertemuan lagi. Tidak ada yang disengaja. Ia menjalani hidupnya sendiri. Aku pun juga begitu.

Sabtu, 04 Desember 2021

Suatu Hari, Sebelum Hari ini.



Hari itu, aku yang sudah berbulan-bulan ndekem di Bogor berencana pulang ke Tangerang. Banyak rencana sudah kusiapkan. Tempat apa saja yang akan kukunjungi, siapa saja yang akan kutemui. Sampai saat aku tiba di stasiun kereta, kulihat seseorang membagikan fotonya yang sedang berkeliling Jakarta. Entah acara apa. Mungkin dia memang seperti itu. Mungkin ia menyukai jalan-jalan sendirian di keramaian, menaiki bus lalu turun di setiap halte tempat bus itu berhenti, untuk kemudian menaiki bus selanjutnya dan turun lagi. Atau menaiki kereta lalu mampir di setiap stasiun kereta itu berhenti. Hanya untuk memperhatikan keriuhannya. Hanya untuk merasakan ramainya. Hanya untuk menguji sepi hatinya. Atau hanya untuk mengoleksi foto-foto perjalanan di galeri ponselnya.
Aku melihat ia masih terus memperbarui keberadaannya. Dari satu halte ke halte lain, dari satu lampu merah ke lampu merah lain. Lalu sejurus kemudian, kukomentari salah satu postingannya. "Aku pulang, nih. Masih keliling Jakarta?", ia tak langsung menjawab. Mungkin masih sibuk dengan kegiatan mempotretnya. Aku lalu memasuki kereta yang kebetulan langsung berangkat. Hari ini semuanya berjalan begitu lancar tanpa ada yang menghambat. Aku merasa Tuhan memudahkannya karena tujuan pertamaku adalah berziarah ke Makam Kyaiku, Kyai Ihsan. Aku juga berniat melanjutkan silaturrahmi ke Pesantren dan ke keluarga ndalem.

Aku tertidur di kereta sampai stasiun akhir tempatku transit. Lalu dibangunkan penumpang lain yang khawatir dan berfikir mungkin saja aku juga mesti berganti kereta dan harus segera disadarkan. Aku berterimakasih lalu kemudian keluar dengan tergesa-gesa. Aku lapar. Tapi tidak ada kedai makanan di dalam stasiun transit ini. Semuanya berada di luar dan harus cek out dulu untuk bisa menikmatinya. Sayang sekali, hanya untuk membeli roti dan air mineral aku harus membayar double ongkos perjalanan. Sebenarnya tak seberapa, tapi kali ini laparku masih bisa ditahan, jadi rupiah segitu masih akan kusayangkan.

Kulanjutkan perjalanan dengan kereta yang baru. Menuju stasiun tujuanku. Kulihat ponsel yang sejak tadi kuabaikan. Beberapa panggilan tak terjawab dan puluhan pesan wasuk ke nomor whatsappku. Seseorang yang aku komentari story whatsappnya. Ia bertanya dimana aku sekarang yang segera kujawab bahwa aku sudah di dalam Kereta menuju Tangerang. Ia lalu meminta bertemu, tempatnya ia yang menentukan tapi aku sama sekali tidak menjanjikan. Aku punya janji temu dengan orang lain. Aku memanggilnya abang, walau sebenarnya kami seumuran. Aku membuat janji temu semata karena Ia pernah mengajakku ngopi saat ada grand opening kafe baru di dekat rumahnya, tapi belum aku iyakan, dan kebetulan hari ini kesempatan itu kugenggam.

Stasiun demi stasiun kulewati dan akhirnya sampai di stasiun tujuan, aku dengan sigap keluar dan kali ini tidak menggunakan jasa ojek online. Sesekali pakai ojek konvensional kan tidak merugikan, pikirku.

Aku lalu menuju makam, letaknya di sebelah ndalem dan dekat sekali dengan masjid tempat santri putra melaksanakan shalat jama'ah serta beberapa kegiatan lain. Malu sekali. Saat itu hari minggu, biasanya menjadi hari sambang, tapi karena ada protokol yang harus dipatuhi dan dijaga, gerbang menjadi tak sembarangan dibuka. Aku menerobos kerumunan orang yang berkumpul di depan gerbang karena ditolak masuk bertemu putranya di dalam. Hanya mereka punya keperluan khusus yang boleh masuk. Sampai saat jarak antara aku dengan gerbang begitu dekat tanpa sekat, di sanalah kudapati wajah seorang ustadz. "Saya mau ketemu ummik." Jelasku tegas. Tanpa ditanya, tapi aku tahu tatapan matanya ingin melontarkan pertanyaan yang jawabannya baru saja kujelaskan. Ia lalu membuka gembok, mempersilahanku masuk. Tanpa pertanyaan lanjutan, tanpa banyak persyaratan.

Aku masuk dengan gugup karena harus sowan ke ndalem terlebih dahulu sebelum ke makam. Untunglah Ummik tidak sedang sibuk dan aku bisa menemui beliau tanpa harus menunggu lama. Hari ini, semuanya benar-benar dilancarkan. Aku mengobrol banyak dengan Ummik mulai dari kabar ndalem, perkembangan pesantren, jumlah santri, bertukar tanya dan bercerita tentang kesibukan yang sedang aku geluti, dan Ummik tidak merasa canggung dengan hal itu. Seperti umi sendiri.

Setelah banyak bercerita, aku pamit untuk ziarah ke makam Aby, begitu para santri memanggil poros dari pesantren ini. Aku berdoa lama sekali. Bercerita bahwa aku sedang akan menyelesaikan skripsi. Aku berharap Aby bisa menatapku lagi, atau bahkan juga memberi nasehat. Tapi entah kenapa, hari itu, dalam segala harap, aku juga sekaligus merasa Aby sangat dekat tak berjarak. Aku merasa tidak sedang bercerita pada nisan saja. Aby ada di sana. Aby mendengarkan dengan seksama. Aby membelai jilbab ujung kepala.

To be continue...

Kamis, 02 Desember 2021

Jangan Tertawa, Aku Malu.

Dek, malam ini aku akan menceritakan satu kisah seperti biasa. Dulu sekali, semasa kuliah, semester pertama, di asrama seringkali kehabisan air untuk mandi. Jadi, kalau kau bangun kesiangan sedikit saja, maka sudahlah, kau hanya akan pergi ke kampus dengan wajah kusut. Maka solusi terakhir adalah menutupinya dengan polesan make up.

Pernah satu waktu aku bangun kesiangan, kebetulan sedang halangan. Aku bangun dan mendapati setiap bak mandi sudah bersih tak berisi. Panik? Oh tidak. Aku segera masuk ke kamar dan mengelap wajahku dengan tissue basah, dilanjut dengan rangkaian make up lainnya. Cantik sekali. Tapi tidak menutupi perasaan tidak nyamanku karena belum mandi. Akhirnya, aku melancarkan satu misi.

Hari itu aku berangkat ke kampus dengan wajah yang segar sekali, tidak akan ada yang mengira bahwa gadis yang berjalan di depan mereka ini belum mandi. Aku masuk kelas dan belajar seperti biasa. Tapi hari itu jam kuliahku padat, setelah selesai kelas ini, aku masih harus masuk kelas yang lain. Tapi, jeda waktu yang kupikir lumayan untuk mengguyur sebentar badanku tak bisa aku sia-siakan. Aku dengan santainya masuk toilet umum dan membawa serta tasku ke dalamnya. Aku membawa sabun mandi dan handuk. Mengguyur badan tanpa membasahi muka sama sekali. Sayang, make up-ku. Pikirku. Haha, picik sekali, bukan? Tapi, di luar alasan itu, ada alasan lain yang membuatku akhirnya tidak membasuh wajah hari itu. Pertama, aku tidak ingin orang² tahu bahwa di dalam sana aku sedang mandi, karena akan malu sekali andai mereka tahu aku mandi di toilet kampus. Kedua, aku tidak membawa make up ke kampus dan tidak ada waktu juga untuk touch up make up meski tipis-tipis. Ketiga, karena aku sedang halangan, jadi tidak perlu berwudhu dan shalat dhuha. Aman.

Sampai hari ini, aku masih saja terpingkal-pingkal mengingat kelakuanku dulu. Bisa-bisanya aku mandi tanpa membasahi sedikitpun wajahku.

Oya, hanya untuk informasi saja, aku kuliah di tempat yang sejuk, dek. Terlampau sejuk malah. Di sana dingin. Jadi sebenarnya tidak masalah walau tak mandi seharian pun. Aku hanya tidak nyaman karena sedang datang bulan. Aku harus mengganti pembalut dan selalu merasa bersalah andai menggantinya tanpa membasuh dan menyabuni badan.

Jangan tertawa, dek. Aku malu.

Rabu, 01 Desember 2021

Habis Kuota; Dari Mana Bahagia itu Bermula?


Ada banyak sekali jalan menuju Roma, banyak sekali cara menjadi bahagia. Tapi problematika anak muda zaman ini semakin sederhana. Sesederhana habis kuota, tak bisa buka sosial media, tak bisa membalas chat dari wanita tercinta. Weileh, udah galau banget kelihatannya.
Padahal, ada banyak panggilan tak terjawab dari Kekasih sebenarnya. Ada ribuan conversation yang tak pernah dibaca. Diarsipkan saja.

Hari ini, jutaan anak muda mulai menampakkan dirinya; berjoget-joget di depan kamera, bersolek di depan kamera, makan-makan di depan kamera, bersedekah di depan kamera, shalat dhuha di depan kamera, semuanya dilakukan di depan kamera. Segala perasaannya butuh akan validasi manusia. Bahkan cantik/tampannya, perlu diakui dengan metode polling like terbanyak pada foto-foto yang disebarnya.

Andai mereka tahu, di pojok sana, di sebuah pesantren kecil tak ternama, ada senyum anak kecil yang mengembang setiap harinya. Hasil dari ketulusannya mengabdi pada Sang Kekasih. Seorang kawan ternyata mulai menyadari dari mana sumber bahagia itu bermula.

Hari itu, hari ke-3 sang anak tidur selepas shubuh. Mungkin karena 2hari sebelumnya sudah membuatnya sedikit terbiasa. Padahal selama ini, ia tak pernah absen menunggu pagi dengan membaca surat-surat dari Sang Kekasih.

Hari itu wajahnya muram. Seperti awan hitam di musim kemarau. Mengkhawatirkan.

Ada yang membuatnya gundah entah apa.

Sampai keesokan harinya, diputusnya rantai keburukan itu. Ia kembali bangun tahajjud yang disambung shubuh dengan bacaan Qur'annya. Sampai matahari menyapa, dibersihkan tubuhnya dan segera shalat dhuha.

Ia lalu berangkat ke sekolah dengan sumringahnya yang entah kenapa. Seorang teman satu asrama memperhatikannya. Oh, sesederhana itu untuk bahagia. Lalu kenapa masih butuh validasi manusia?

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...