About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Selasa, 10 November 2020

Sang Gadis

Apa kau pernah mendengar dongeng tentang seorang gadis yang hidup dalam kegelapan? Aku ingin sedikit mendongeng hari ini.
Dulu sekali ada seorang gadis kecil yang hidup sendirian. Ia hidup di dunia yang tidak ada malam di dalam dunianya. Hanya ada siang. Kau pasti mengira aku bercanda. Atau salah bercerita. Hehe. Tidak, sayang. Aku tidak salah. Kau, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Oke, kita lanjut. Sampai beberapa tahun berlalu, sang gadis sadar bahwa selama ini hanya mataharilah yang menemani hari-harinya. Menyinarinya, menghangatkannya, dan tak pernah dendam kepadanya. Tak pernah sedetik pun meninggalkannya. Ia mengagumi matahari sampai sebegitunya. Dipujanya matahari itu setiap waktu. Dan berfikir, bisakah ia memeluk pujaannya itu?
“Bisakah aku memelukmu wahai teman setiaku?” Tanya sang gadis dengan kepala mendongak menatap pujaannya. Yang ditanya hanya menjadi pendengar setia tanpa melontarkan jawabannya. Sang gadis terus memikirkan cara untuk bisa menggapai matahari-nya. Tak nyenyak tidurnya, tak tergugah selera makannya. Ia hanya ingin terus memandangi pujaannya.
Pada hari ke sekian, pertanyaan sang gadis mendapat jawaban. Matahari mengiriminya surat di atas daun-daun yang berguguran.
“Wahai anak gadis yang manis, kau tahu?
Ada beberapa hal di dunia ini yang amat kita cintai, tapi sebenarnya tak boleh kita miliki.
Seperti saat kau mencintai bunga, kau tidak harus memetik dan memilikinya.
Sebab itu hanya akan membuat sesuatu yang kau cintai mati.
Maka dalam hal ini, cara terbaik untuk mencintai adalah dengan membiarkannya, sayang.”

Ttd
Matahari
Ia tersenyum membaca surat cinta-nya. Meski hatinya agak berdesir getir memahami isinya. Baiklah, akhirnya sang gadis tak lagi memaksa takdirnya.
(((

Hari demi hari berlalu, hati sang gadis semakin jemu. Hanya bisa memandangi sang pujaan dari balik pintu membuatnya semakin pilu. Ia tak tahan lagi. Dipaksanya semesta untuk mengabulkan apa yang ia pinta. Sederhana, hanya ingin menggapai matahari-nya. Lalu pada hari ke sekian, sang gadis mendapatkan permintaannya. Semesta menurunkan matahari. Disambutnya sang pujaan dengan wajah berseri. Sang gadis tak sadar, saat tak berada di tempatnya, matahari tak mampu bersinar. Dunia menjadi amat gelap. Lalu sang gadis kehilangan pujaannya. Berhari-hari ia berlari. Mencari matahari yang tak bersinar lagi. Tubuhnya penuh luka, tapi hatinya jauh lebih perih. Dalam tangisnya ia jatuh berkali-kali. Kini ia hidup dalam dunia yang tak ada siang di dalamnya.
Waktu berjalan begitu lambat. Sang gadis masih saja tenggelam dalam harap di tengah gelap. Semesta hanya memperhatikannya. Menghitung tetes-tetes air mata yang dijatuhkannya. Sungguh kasihan. Senyum yang sempat mengembang itu secepat kilat menghilang. Berganti tangis yang berkepanjangan.
Semesta merasa kasihan. Dikirimnya bulan untuk membuat hari sang gadis sedikit lebih terang. Seketika sedihnya menghilang. Berfikir sang pujaan telah menemukan jalan pulang. Ternyata tidak. Didongakkan kepalanya dan dilihatnya bulan dengan cahaya yang lembut.
Ia kembali jatuh cinta. Bukan. Bukan jatuh cinta pada bulan. hanya karena bulan memiliki sinar seperti sang pujaan. Meski agak redup, tapi itulah yang akan membuat ingatannya senantiasa hidup.
(((
Bulan terus memperhatikan sang gadis yang tak banyak bicara. Hanya diam dan sesekali beradu pandang. Bulan pernah mengira bahwa sang gadis menyukainya. Padahal tidak. Dalam hatinya sang gadis berkata, “Kau bukan matahari-ku. Tapi kaulah yang menghidupkan semua ingatanku. Kau memiliki apa yang dimiliki pujaanku, dulu. Aku mengagumimu. Tapi, kali ini aku tak akan lagi memaksa takdirku untuk memilikimu. Kali ini, aku akan membiarkanmu. Karena hanya dengan berada di tempatmulah kau akan bersinar. Terimakasih, bulan-ku.”
(((

Senin, 09 November 2020

Bersamamu, Aku Ingin Tersesat Berdua.

Aku ingin melakukan perjalanan yang aku sendiri tidak tahu arah mata angin dimana.
Aku ingin berbincang yang aku sendiri tidak tahu arah perbincangan itu ke mana.
Aku ingin tertawa yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya.
Bersamamu.
Aku ingin tersesat berdua.

Bogor; Tak Ada Makanan Panas di Dalam Kulkas

Sang gadis terjaga dari tidur lelapnya. Pukul satu. Telinganya menangkap sesuatu mencakar-cakar daun pintu. Matanya terbuka sempurna. Menatap langit-langit yang entah apa warnanya. Akal sehatnya mengajak sang gadis memeriksa. Gerangan apa yang membuatnya terjaga. Tapi entah bisikan dari mana yang ia seketika percaya; "itu hanya kucing," lalu mencoba kembali memejamkan mata.

Suara mencakar-cakar itu berlangsung lama. Hingga akhirnya berhenti, saat itulah seolah malaikat maut menyapa diri. Hawa dingin merasuk masuk. Membuat darah membeku dan tulang belulang seketika kaku. Menggigil.

Selimut menutup tubuh kurus sang gadis sampai ke leher. Bagian itulah yang terasa mendidih akhirnya. Sang gadis demam.

Ia lalu memeriksa keningnya. Tak ada yang mendidih di sana. Dingin.

Ia sadar; tak ada makanan panas di dalam kulkas.

Senin, 06 April 2020

Masa Lalu, Bukan Masa Depan.

Pernah banget nggak peduli sama penampilan, pernah banget nggak peduli sama yang namanya dandan, pernah banget kemana2 pake kets, celana, kerudung, dan ransel seadanya. Pernah banget satu gank sama laki2, jadi yang paling cantik disana. Pernah banget nge-bolang kemana2 sendirian, pernah banget kabur dari pesantren nggak pulang kerumah. Pernah banget. ๐Ÿ˜‡

Lantas, masa lalu bisa seenaknya mendikte hari esok kita? Masa lalu bisa seenaknya menentukan baik/buruk masa depan kita? Tidak.

Kalau kau tahu, aku pernah di ejek sebab jilbab lebarku, pernah dicaci maki, dibilang pencitraan, dan tak tahu malu. Dimusuhi lantaran hijrahku. Tapi yang memusuhi justru sekarang jaaauuuhh lebih baik dari pada aku dalam pandanganku, jauh lebih taat, dan istiqomah hijrahnya.

Lihat, masa lalu tak berhak sedikit pun menjadi penentu, akan menjadi apa kita hari ini. Selama terus memperbaiki diri, kebaikan dimasa depan tak akan lari.

Percayalah. Semua punya masa lalu yang kelam. Dan semua berhak akan masa depan yang cemerlang. ๐Ÿ˜‡

Minggu, 29 Maret 2020

Anak


Dari aku, untukmu penggenap mimpiku.
Betapa bahagianya andai aku bisa menjadi istri yang baik, untukmu, suami yang (semoga) juga baik. Dengan begitu, satu mimpiku terbayar. Kini, masih ada satu mimpi lagi. Ah, bukankah mimpi-mimpi itu tak akan pernah habis hingga kita benar-benar sampai pada cita-cita yang hakiki, yakni bertemu sang Ilahi? Itulah kenapa, segala mimpi harus tetap bermuara pada Dzat yang Abadi.
Jadi, dear, satu lagi mimpiku setelah menjadi seorang istri. Iya, tentu saja kau tahu itu. Menjadi ibu, adalah cita-cita terbesarku. Menyaksikan satu persatu anak-anak kita tumbuh. Ah, bahagia sekali rasanya membayangkan ada malaikat-malaikat kecil yang akan selalu menghibur hati.
Tapi, dear…
Kau harus tahu, ada banyak hal yang ingin sekali aku terapkan, bahkan hindarkan ketika punya anak, nanti. Yang tentu kau juga akan banyak berperan. Karena tak mungkin aku menerapkannya sendirian, bukan? Hehe…
Dear…
Sungguh, aku tak ingin anakku nanti merasa bersalah telah lahir ke dunia. Tidak, kita tidak akan membiarkan mereka hidup dengan ‘disalahkan’. Mereka harus selalu mendapat support, dukungan. Mereka harus tahu, betapa kita selalu bangga dengan kehadirannya. Setiap anak tentu akan membuat kesalahan. Tapi menyalahkan bukan cara terbaik untuk mendidik.
Dear…
Segala kebutuhan anak kita nanti harus benar-benar terpenuhi. Dari segala sisi, terlebih kebutuhan hati dan rohani. Aku ingin mereka menjejaki dunia pendidikan sejauh yang mereka inginkan. Tanpa ada biaya sepeserpun yang harus mereka fikirkan. Tidak. Kita tidak akan membesarkan anak kita dengan prinsip-prinsip dunia. Apalagi membuat mereka merasa seolah kehidupannya adalah beban bagi orang tua. Oh, tidak, dear. Itu tidak akan terjadi. Ku pastikan mereka akan tumbuh dengan pemahaman-pemahaman terbaik.

Sabtu, 28 Maret 2020

Suami


Dari aku, untukmu calon ayah dari anak-anakku.
Aku adalah perempuan lajang, masih sendiri. Tentangmu, sedikitpun masih belum ku ketahui. Tapi kau harus tahu, betapa aku beruntung saat tahu ada laki-laki segagah kau yang berani menghadap ayahku.
Kau tahu, dear?
Impianku tak pernah sederhana tentang sebuah pernikahan. Aku tahu pernikahan bukan sebuah tuntutan, bukan adat atau kebiasaan. Tidak perlu banyak prosesi atau pesta-pesta bergengsi. Pernikahan adalah satu jalan penyempurnaan. Maka akan butuh komitmen yang tidak sederhana. Berjanji untuk tetap setia beriringan, berjalan menuju syurga bersama-sama.
Dear…
Kau fikir, aku takut jika kau-seseorang yang datang meminangku- adalah orang yang sederhana? Atau miskin harta? Oh, tidak dear. Betapa lebih menakutkannya andai aku akan bersama dengan orang yang miskin ilmu dan tanggung jawab.
Tak apa, dear. Kau tak perlu takut atau minder jika bukan kemewahan yang bisa kau tawarkan sebagai mahar pernikahan. Bukankah Allah selalu menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya? (ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจูƒู… ุงู„ูŠุณุฑู‰ ูˆ ู„ุง ูŠุฑูŠุฏ ุจูƒู… ุงู„ุนุณุฑ). Ah, terlalu keji rasanya jika aku yang bukan Tuhan justru bermaksud untuk menyulitkanmu.
Tapi, dear, atas segala kriteria yang aku harapkan, aku masih harus menyesuaikan. Bukankah picik sekali jika aku ingin disatukan dengan yang baik, sedang aku sendiri enggan memperbaiki diri?
Tapi tentu, aku boleh melakukannya hanya karena ketaatan pada-Nya. Bukan demi kamu. J

Seseorang Part.4


Kau ingat seseorang yang aku ceritakan kemarin?
Ia sudah sangat sakit sampai saat ini.
Andai mati adalah solusi,
Barangkali nyawa sudah dikeluarkan dari dalam diri.
Baginya, hidup sudah tak berarti lagi.
Ramai sudah tak mampu mengusir sepi di dalam hati.
Berfikir ingin kembali menjadi ‘si kecil’.
Tapi, ah… Masa kecilnya sama menyakitkan dengan hari ini.
Tak ada penghargaan atas setiap kebaikan.
Hanya kemarahan atas kesalahan dan kealpaan-kealpaan.
Tak ada dukungan.
Hanya paksaan-paksaan.
Tak dibiarkan membuat jalannya sendiri.
Hanya harus berjalan pada ketentuan yang sudah berdiri.
Gadis itu seperti boneka di rumahnya sendiri.
Lelah.
Tak hidup. Tetapi juga tak mati.




Seseorang itu; Aku.

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...