About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Senin, 25 Januari 2021

Trauma

 Malam tadi seseorang meminta maaf kepadaku. Katanya, "maaf ya, kamu harus mendengar dan menyaksikan hal-hal menyakitkan tentang rumah tangga. Selalu. Maaf, alih-alih kamu belajar dari pengalaman orang lain, yang mendominasi lebih banyak malah rasa traumanya. Maaf udah buat kamu jadi takut dan skeptis. Tapi aku yakin, semua nggak akan sehorror yang kamu bayangkan, kok. Aku ikut doain yang terbaik buat kamu."


Aku tak menanggapi. Aku tahu, hidup seperti itu bukan hidup yang ia mau. Andai bisa 'request' langsung ke Tuhan, aku yakin dia juga akan minta kehidupan yang lebih baik, lebih harmonis dan lebih normal tanpa banyak drama seperti sekarang ini.


Aku tak bisa menuntut dan menyalahkan orang-orang sekitar jika pengalaman mereka justru membuatku trauma. Tidak. Pengalaman pahit itu adalah bagian mereka. Dan trauma adalah bagianku. Sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Aku hanya perlu membuat mereka tidak terlalu khawatir dengan keadaanku, dan tidak menyalahkan hidup mereka.


Aku seharusnya juga meminta maaf jika akhirnya mereka harus tahu perihal trauma itu.


Ini tidak bercanda. Tuhan menyiapkan segala porsi bahagia dan air mata sudah sesuai takarannya. Terlepas dari bagaimana caranya. Jika memang harus melibatkan orang lain, tak perlu menyalahkan orang yang terlibat. Cukup menata hati perihal bagaimana cara terbaik menyikapi.


Tangerang, 19 Januari 2021.

Minggu, 20 Desember 2020

Sang Gadis

Sang Gadis masih menunggu keretanya.
Kereta yang tak lagi salah.
Yang tidak berjalan melawan arah.
Kereta yang akan mengantar Sang Gadis pada Tujuannya.

Lagi-lagi Sang Gadis tertawa. "Siapa?" batinnya.

Sang Gadis

Sang Gadis dikutuk dengan satu penyakit mengerikan. Yang ketika sakit itu menyerang, orang-orang hanya bisa menaruh kasihan tanpa tahu apa yang mesti dilakukan.

Beberapa tahun terlewat dan kutukan Sang Gadis tak juga lenyap. Orang-orang senang sekali menghibur Sang  Gadis dengan dongeng turun temurun mereka. Bahwa orang-orang yang dikutuk, akan terbebas dari kutukannya setelah bertemu dengan cinta sejatinya.

Sang Gadis hanya tertawa. "Siapa?" batinnya.

Sang Gadis

Pernah satu hari Sang Gadis pergi.
Berpisah dari kata 'sendiri'.
Sang Gadis temukan kereta yang ia yakin akan mengantar ke tujuannya.
Meski ternyata ia salah.
Kereta berjalan melawan arah.
Sang Gadis sampai di tempat antah berantah.
Di tengah kesedihannya,
seseorang mendekat dan bertanya;
"Apa gerangan yang membuatmu menjatuhkan air mata?"
"Aku salah naik kereta" jawabnya.
Seseorang itu masih diam tak berkata.
Seolah menunggu Sang Gadis berhenti menangis.
"Kau mungkin saja salah kereta. Tapi Tuhan tak mungkin salah menakdirkan. Kau memang harus berada di tempat ini sebelum sampai tujuan. Berkelilinglah dulu. Kau akan mendapat hal baru."
Sang Gadis menoleh.
Seorang nenek tua dengan selendang merah yang melilit di lehernya.
Mengulum senyum dengan bijaksana.
Sang Gadis tak lagi marah.
Benar.
Tuhan tak mungkin salah menakdirkan.

Sabtu, 28 November 2020

Sang Gadis

Sang Gadis terus bertumbuh sendirian.
Menjalani hidup dengan menjadi apa (saja) yang ia inginkan.
Kadang menjelma awan putih menyenangkan.
Kadang menjadi awan hitam menyebalkan.
Kadang meluruh menjadi hujan.
Menumbuhkan tanaman-tanaman.
Memberi minum mereka yang kehausan.
Kadang juga memilih membeku.
Menyapa orang-orang sedingin salju.

Tapi ia tetap Sang Gadis.
Menyenangkan atau menjengkelkan,
bagi seseorang ia adalah kesayangan.

Setidaknya bagi dirinya sendiri.

Sang Gadis. 241120

"Kau cantik hari ini."
Begitu komentar seseorang pada Sang Gadis pagi ini.
Setelah bangkit dari sakitnya, dibalutnya tubuh ringkih itu dengan gauh terindah. Diriasnya wajah mungil itu dengan riasan terbaik. Ia sangat benci terlihat lemah.

Pagi ini matahari bersinar terang yang segera disusul siang dengan awan hitam kelam menjemukan. Sang Gadis keluar kelas dengan langkah gontai. Ia sadar, gauh seindah apapun tak akan mampu menyembunyikan lemas tubuhnya. Pun riasan dengan merk ternama tak sudi berbohong atas pucat pasi wajahnya.

Lipstik Sang Gadis luntur. Pandangannya kabur. Ia belum sehat sempurna. Hanya bosan diam di pembaringannya.

2020

Selasa, 10 November 2020

Sang Gadis

Apa kau pernah mendengar dongeng tentang seorang gadis yang hidup dalam kegelapan? Aku ingin sedikit mendongeng hari ini.
Dulu sekali ada seorang gadis kecil yang hidup sendirian. Ia hidup di dunia yang tidak ada malam di dalam dunianya. Hanya ada siang. Kau pasti mengira aku bercanda. Atau salah bercerita. Hehe. Tidak, sayang. Aku tidak salah. Kau, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Oke, kita lanjut. Sampai beberapa tahun berlalu, sang gadis sadar bahwa selama ini hanya mataharilah yang menemani hari-harinya. Menyinarinya, menghangatkannya, dan tak pernah dendam kepadanya. Tak pernah sedetik pun meninggalkannya. Ia mengagumi matahari sampai sebegitunya. Dipujanya matahari itu setiap waktu. Dan berfikir, bisakah ia memeluk pujaannya itu?
“Bisakah aku memelukmu wahai teman setiaku?” Tanya sang gadis dengan kepala mendongak menatap pujaannya. Yang ditanya hanya menjadi pendengar setia tanpa melontarkan jawabannya. Sang gadis terus memikirkan cara untuk bisa menggapai matahari-nya. Tak nyenyak tidurnya, tak tergugah selera makannya. Ia hanya ingin terus memandangi pujaannya.
Pada hari ke sekian, pertanyaan sang gadis mendapat jawaban. Matahari mengiriminya surat di atas daun-daun yang berguguran.
“Wahai anak gadis yang manis, kau tahu?
Ada beberapa hal di dunia ini yang amat kita cintai, tapi sebenarnya tak boleh kita miliki.
Seperti saat kau mencintai bunga, kau tidak harus memetik dan memilikinya.
Sebab itu hanya akan membuat sesuatu yang kau cintai mati.
Maka dalam hal ini, cara terbaik untuk mencintai adalah dengan membiarkannya, sayang.”

Ttd
Matahari
Ia tersenyum membaca surat cinta-nya. Meski hatinya agak berdesir getir memahami isinya. Baiklah, akhirnya sang gadis tak lagi memaksa takdirnya.
(((

Hari demi hari berlalu, hati sang gadis semakin jemu. Hanya bisa memandangi sang pujaan dari balik pintu membuatnya semakin pilu. Ia tak tahan lagi. Dipaksanya semesta untuk mengabulkan apa yang ia pinta. Sederhana, hanya ingin menggapai matahari-nya. Lalu pada hari ke sekian, sang gadis mendapatkan permintaannya. Semesta menurunkan matahari. Disambutnya sang pujaan dengan wajah berseri. Sang gadis tak sadar, saat tak berada di tempatnya, matahari tak mampu bersinar. Dunia menjadi amat gelap. Lalu sang gadis kehilangan pujaannya. Berhari-hari ia berlari. Mencari matahari yang tak bersinar lagi. Tubuhnya penuh luka, tapi hatinya jauh lebih perih. Dalam tangisnya ia jatuh berkali-kali. Kini ia hidup dalam dunia yang tak ada siang di dalamnya.
Waktu berjalan begitu lambat. Sang gadis masih saja tenggelam dalam harap di tengah gelap. Semesta hanya memperhatikannya. Menghitung tetes-tetes air mata yang dijatuhkannya. Sungguh kasihan. Senyum yang sempat mengembang itu secepat kilat menghilang. Berganti tangis yang berkepanjangan.
Semesta merasa kasihan. Dikirimnya bulan untuk membuat hari sang gadis sedikit lebih terang. Seketika sedihnya menghilang. Berfikir sang pujaan telah menemukan jalan pulang. Ternyata tidak. Didongakkan kepalanya dan dilihatnya bulan dengan cahaya yang lembut.
Ia kembali jatuh cinta. Bukan. Bukan jatuh cinta pada bulan. hanya karena bulan memiliki sinar seperti sang pujaan. Meski agak redup, tapi itulah yang akan membuat ingatannya senantiasa hidup.
(((
Bulan terus memperhatikan sang gadis yang tak banyak bicara. Hanya diam dan sesekali beradu pandang. Bulan pernah mengira bahwa sang gadis menyukainya. Padahal tidak. Dalam hatinya sang gadis berkata, “Kau bukan matahari-ku. Tapi kaulah yang menghidupkan semua ingatanku. Kau memiliki apa yang dimiliki pujaanku, dulu. Aku mengagumimu. Tapi, kali ini aku tak akan lagi memaksa takdirku untuk memilikimu. Kali ini, aku akan membiarkanmu. Karena hanya dengan berada di tempatmulah kau akan bersinar. Terimakasih, bulan-ku.”
(((

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...