Kamis, 02 Desember 2021
Jangan Tertawa, Aku Malu.
Rabu, 01 Desember 2021
Habis Kuota; Dari Mana Bahagia itu Bermula?
Rabu, 17 November 2021
Tidak Seperti Takdir
Siang ini aku sedang di rumah. Santai merebah. Meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya. Menatap ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya, juga cemilan sederhana.
Damai sekali. Inilah yang disebut kenyamanan; mungkin.
Tapi tak lama, ponsel yang terletak tak jauh dari toples cemilanku itu berdering. Menampilkan satu nama memanggil; kawan.
Kudengar ia meminta izin berkunjung ke rumah. Tapi karena sedang tak ingin diganggu, aku lalu mencari cara agar tidak ditemuinya. Segera kusambar jilbab dan berlari ke luar.
Kukatakan, "Maaf, kawan, aku sedang di luar. Nanti aku kabari lagi yaa... Semoga lekas bertemu 🤗"
Begitulah.
Kawanku selalu menghubungiku untuk hal² yang seremeh itu. Padahal ia bisa saja langsung datang ke rumahku. Tapi dia memang sopan sekali. Tak seperti takdir. Rese. Tak menyapa, tak bertanya siap atau tidak, tak peduli menangis bagaimana rupa, ia tetap datang, ia tetap terjadi.
Selasa, 28 September 2021
Kapan Hari itu Tiba?
Selasa, 21 September 2021
Penyelam yang Malang
Rabu, 02 Juni 2021
Saya Hanya Terpaksa, Lalu Ayah Membuat Anak Saya Terbiasa.
Perbedaan pola asuh dalam keluarga memang wajar sekali ya bund. Jangankan antara orang tua dengan mertua, kadang malah suami-istri bisa punya cara asuh yang berbeda loh. Nah, hal-hal seperti ini yang sudah mesti dibicarakan jauh sebelum anak lahir ya moms...
Saya mau cerita sedikit.
Saya punya anak usia 2 tahun yang sudah mulai kecanduan gadget. Sedikit banyak, ia mulai tantrum kalau tidak dikasih gadget. Marah sekali saya melihatnya.
Sebenarnya saya pribadi tidak membiasakan anak untuk bermain dengan gadget sepanjang hari, tapi kebetulan memang saat ini saya masih tinggal bersama orang tua (kakek-neneknya anak-anak), jadi, bukan cuma saya yang mengasuh anak-anak.
Beberapa hari kemarin saya sempat berdebat dengan ayah saya (kakeknya anak-anak) tentang beliau yang terlalu sering kasih anak saya gadget dengan alasan "biar anteng" atau alasan lain yang sebenarnya gadget bukan solusi satu-satunya. Ayah saya lalu mengungkit apa yang pernah dilihatnya beberapa bulan lalu, beliau mengatakan bahwa saya yang mengenalkan gadget pada anak saya. Memang benar, saya mengenalkan anak dengan yout*be waktu usia anak masih 11 bulan. Hal itu semata bukan karena saya ibu yang tidak mau repot mengurus atau mengajak main anaknya sampai rela yout*be yang mengasuh anak saya. Tidak.
Waktu itu kami (aku dan keluarga kecil) masih mengontrak dan suami kerja dari pagi sampai sore. selama itu saya hanya berdua di kontrakan dengan si kecil. Tidak setiap saat anak saya anteng, malah dia sering sekali menangis di waktu-waktu saya harus shalat. HANYA PADA WAKTU SHALAT. Iya, saya menenangkannya dengan memberinya tontonan yout*be waktu itu, setiap saya shalat. Terbukti anak saya anteng sekali. Kejadian seperti ini tidak rutin terjadi setiap hari atau setiap waktu shalat, ini hanya saya lakukan ketika anak rewel saja. Dan hal ini tidak berlangsung lama, karena akhirnya harus pindah ke rumah orang tua.
Di sini ayah saya selalu memberinya gadget padahal saya sudah memfasilitasi anak dengan mainan edukasi yang lebih mendidik. Saya katakan, Ayah, mengenalkan dengan membiasakan itu berbeda sekali. Saya mengenalkannya dengan gadget di usianya yang masih 11 bulan itu karena terpaksa. Sekarang ayah membiasakannya menonton video yout*be dengan suka rela.
Begini, ibaratnya, saya hanya mengenalkan anak dengan kegiatan berenang, sekali atau dua kali saja. Lalu kemudian ayah mengajaknya setiap hari. Ia jadi terbiasa lalu tantrum setiap kali ingin berenang. Ia selalu ingin dituruti karena terbiasa seperti itu oleh kakeknya. Ketika yang terjadi hanya perkenalan, anak-anak tidak akan mungkin bisa langsung kecanduan, ayah. Kebiasaan yang membuat anak-anak akhirnya tidak bisa lepas dari apa yang digenggamnya selama ini.
Seharusnya ayah faham itu. Seharusnya ayah banyak belajar tentang bahaya gadget bagi anak-anak sebelum ayah menyerahkan cucu hebat ayah pada robot kecil itu.
Saya cuma mau cerita, termikasih sudah membaca. :)
Sabtu, 03 April 2021
Cuma Curhat.
Saya sudah mulai kehilangan diri saya yang dulu. Padahal dulu, saya tidak terlalu suka belajar di kelas. Saya lebih suka belajar di rumah. Di kelas itu cuma tempat untuk unjuk gigi, bahwa saya bukan siswi biasa, saya pintar. Nah, proses belajar di rumah itu yang mendukung kegiatan unjuk gigi saya. Saya termasuk orang yang tidak mau kalah. Saya tidak suka step yang bertele-tele, itulah kenapa saya tidak pernah belajar iqra runtut dari iqra 1 sampai 6. Saya selalu belajar bagaimana caranya ketika di pengajian, saya sudah lebih dulu faham sebelum diajarkan atau dijelaskan. Ketika saya berada di tingkat iqra 4, saya sudah mati-matian belajar iqra 6, bahkan juz 'amma dan selalu ingin guru ngaji saya tahu, bahwa saya sudah tidak ingin berada di kelas iqra 4.
Di Sekolah Menengah Pertama, saya tidak pernah tidak belajar sebelum berangkat sekolah. Bangun tidur, sebelum berangkat, pulang sekolah hingga sebelum tidur yang saya lakukan hanya belajar sampai ibu sering memarahi saya karena saya lebih suka buku daripada sapu. "Anak gadis itu mbok ya kerja, beres-beres rumah ngunu lho nduk. Jangan buku terus." begitu kalimat yang selalu saya dengar setiap selepas shubuh saat sedang bercumbu dengan buku. Padahal bapak selalu senang melihat saya yang tidak berhenti belajar. Bahkan saat sedang menulis surat cinta pun, bapak percaya anak gadisnya sedang menulis rumus-rumus fisika.
Saya bermain seperti anak-anak SMP pada umumnya, saya bermain handphone, saya pergi ke warnet, tapi saya tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi nomor satu di sekolah. Saya murid yang berhasil bertahan di peringkat pertama pada setiap semester.
Sampai di semester akhir kawan-kawan mulai bertanya tentang rahasia yang padahal saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya tidak pandai matematika, saya benci kesenian, saya tidak jago olah raga, saya alergi pelajaran sejarah, tapi setiap pembagian raport, peringkat pertama selalu diisi oleh nama saya. Beberapa kawan dan orang tua bertanya tentang rahasia yang saya hanya menjawab "doa ibu saya yang luar biasa," dan orang-orang seketika mengangguk percaya.
Hari ini saya menjadi nomor sekian. Orang-orang tak lagi memandang saya spesial. Saya hanya orang biasa. Saya sering tidur di kelas, di asrama lebih suka menghabiskan waktu untuk meracau atau menulis cerita, bahkan menonton drama. Saya sudah tidak suka buku-buku pelajaran. Di asrama, tidak ada bapak yang tersenyum lebar saat melihat saya belajar. Tidak ada yang berkata "rajinnya anak bapaaaakkk..." Juga tidak ada yang memberi saya makanan kecil saat otak saya mulai pening menatap tulisan-tulisan atau rumus matematika.
Best of...
Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak
Oleh: Galuh Za Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...
-
"Bun... Si dedek nangis. Maaf ya ayah langsung berangkat." Kecup suamiku di keningku. Suatu kebiasaan setiap pagi, seb...
-
Oleh: Galuh Za Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...
-
Setelah jutaan purnama, aku merasa diri sudah tak lagi layak dicinta. Merasa diri tak punya hal istimewa, tak ada apa-apanya dib...


