About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Kamis, 02 Desember 2021

Jangan Tertawa, Aku Malu.

Dek, malam ini aku akan menceritakan satu kisah seperti biasa. Dulu sekali, semasa kuliah, semester pertama, di asrama seringkali kehabisan air untuk mandi. Jadi, kalau kau bangun kesiangan sedikit saja, maka sudahlah, kau hanya akan pergi ke kampus dengan wajah kusut. Maka solusi terakhir adalah menutupinya dengan polesan make up.

Pernah satu waktu aku bangun kesiangan, kebetulan sedang halangan. Aku bangun dan mendapati setiap bak mandi sudah bersih tak berisi. Panik? Oh tidak. Aku segera masuk ke kamar dan mengelap wajahku dengan tissue basah, dilanjut dengan rangkaian make up lainnya. Cantik sekali. Tapi tidak menutupi perasaan tidak nyamanku karena belum mandi. Akhirnya, aku melancarkan satu misi.

Hari itu aku berangkat ke kampus dengan wajah yang segar sekali, tidak akan ada yang mengira bahwa gadis yang berjalan di depan mereka ini belum mandi. Aku masuk kelas dan belajar seperti biasa. Tapi hari itu jam kuliahku padat, setelah selesai kelas ini, aku masih harus masuk kelas yang lain. Tapi, jeda waktu yang kupikir lumayan untuk mengguyur sebentar badanku tak bisa aku sia-siakan. Aku dengan santainya masuk toilet umum dan membawa serta tasku ke dalamnya. Aku membawa sabun mandi dan handuk. Mengguyur badan tanpa membasahi muka sama sekali. Sayang, make up-ku. Pikirku. Haha, picik sekali, bukan? Tapi, di luar alasan itu, ada alasan lain yang membuatku akhirnya tidak membasuh wajah hari itu. Pertama, aku tidak ingin orang² tahu bahwa di dalam sana aku sedang mandi, karena akan malu sekali andai mereka tahu aku mandi di toilet kampus. Kedua, aku tidak membawa make up ke kampus dan tidak ada waktu juga untuk touch up make up meski tipis-tipis. Ketiga, karena aku sedang halangan, jadi tidak perlu berwudhu dan shalat dhuha. Aman.

Sampai hari ini, aku masih saja terpingkal-pingkal mengingat kelakuanku dulu. Bisa-bisanya aku mandi tanpa membasahi sedikitpun wajahku.

Oya, hanya untuk informasi saja, aku kuliah di tempat yang sejuk, dek. Terlampau sejuk malah. Di sana dingin. Jadi sebenarnya tidak masalah walau tak mandi seharian pun. Aku hanya tidak nyaman karena sedang datang bulan. Aku harus mengganti pembalut dan selalu merasa bersalah andai menggantinya tanpa membasuh dan menyabuni badan.

Jangan tertawa, dek. Aku malu.

Rabu, 01 Desember 2021

Habis Kuota; Dari Mana Bahagia itu Bermula?


Ada banyak sekali jalan menuju Roma, banyak sekali cara menjadi bahagia. Tapi problematika anak muda zaman ini semakin sederhana. Sesederhana habis kuota, tak bisa buka sosial media, tak bisa membalas chat dari wanita tercinta. Weileh, udah galau banget kelihatannya.
Padahal, ada banyak panggilan tak terjawab dari Kekasih sebenarnya. Ada ribuan conversation yang tak pernah dibaca. Diarsipkan saja.

Hari ini, jutaan anak muda mulai menampakkan dirinya; berjoget-joget di depan kamera, bersolek di depan kamera, makan-makan di depan kamera, bersedekah di depan kamera, shalat dhuha di depan kamera, semuanya dilakukan di depan kamera. Segala perasaannya butuh akan validasi manusia. Bahkan cantik/tampannya, perlu diakui dengan metode polling like terbanyak pada foto-foto yang disebarnya.

Andai mereka tahu, di pojok sana, di sebuah pesantren kecil tak ternama, ada senyum anak kecil yang mengembang setiap harinya. Hasil dari ketulusannya mengabdi pada Sang Kekasih. Seorang kawan ternyata mulai menyadari dari mana sumber bahagia itu bermula.

Hari itu, hari ke-3 sang anak tidur selepas shubuh. Mungkin karena 2hari sebelumnya sudah membuatnya sedikit terbiasa. Padahal selama ini, ia tak pernah absen menunggu pagi dengan membaca surat-surat dari Sang Kekasih.

Hari itu wajahnya muram. Seperti awan hitam di musim kemarau. Mengkhawatirkan.

Ada yang membuatnya gundah entah apa.

Sampai keesokan harinya, diputusnya rantai keburukan itu. Ia kembali bangun tahajjud yang disambung shubuh dengan bacaan Qur'annya. Sampai matahari menyapa, dibersihkan tubuhnya dan segera shalat dhuha.

Ia lalu berangkat ke sekolah dengan sumringahnya yang entah kenapa. Seorang teman satu asrama memperhatikannya. Oh, sesederhana itu untuk bahagia. Lalu kenapa masih butuh validasi manusia?

Rabu, 17 November 2021

Tidak Seperti Takdir



Siang ini aku sedang di rumah. Santai merebah. Meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya. Menatap ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya, juga cemilan sederhana.


Damai sekali. Inilah yang disebut kenyamanan; mungkin.


Tapi tak lama, ponsel yang terletak tak jauh dari toples cemilanku itu berdering. Menampilkan satu nama memanggil; kawan.


Kudengar ia meminta izin berkunjung ke rumah. Tapi karena sedang tak ingin diganggu, aku lalu mencari cara agar tidak ditemuinya. Segera kusambar jilbab dan berlari ke luar.


Kukatakan, "Maaf, kawan, aku sedang di luar. Nanti aku kabari lagi yaa... Semoga lekas bertemu 🤗"


Begitulah.

Kawanku selalu menghubungiku untuk hal² yang seremeh itu. Padahal ia bisa saja langsung datang ke rumahku. Tapi dia memang sopan sekali. Tak seperti takdir. Rese. Tak menyapa, tak bertanya siap atau tidak, tak peduli menangis bagaimana rupa, ia tetap datang, ia tetap terjadi.



Selasa, 28 September 2021

Kapan Hari itu Tiba?

Aku jadi sering sekali berfikir tentang hari esok. "Apakah aku akan mengalami fase itu?" Fase yang saat ini marak manusia² seusiaku sedang sibuk melangkah masuk ke dalamnya.
Apakah aku akan merasakan yang namanya menikah? Apakah aku juga akan menjadi madrasah pertama? Mengandung 9 bulan dan melahirkan sesosok bayi mungil ke dunia? Apakah akan ada seseorang yang memanggilku "bunda?".

Ah, berat sekali rasanya membayangkan aku berada di sana. Meski ada perasaan takut juga yang menyelinap di dada, bahwa aku tak akan pernah merasakannya.

Aku berdiri di teras rumah sambil melihat hampir semua tetangga sudah sibuk menggendong bayi mungil mereka, membantunya belajar bicara, menyuapi MPASI, bernyanyi, menghitung jumlah burung di udara. Asyik sekali kelihatannya. Mengalihkan pandang ke smartphone tersayang, menatap puluhan gambar terpampang dengan keadaan yang masih tak kutemukan perbedaan. Masih seputar ibu dengan perut besarnya, foto hasil USG yang disebar dengan caption gembira, foto keluarga lengkap dengan suami dan anak² tercinta, semua dibagikan dengan sukacita dan aku masih bertanya² tentang 'kapan hari itu tiba?'.

Tak memaksa segera. Hanya penasaran saja. Apakah esok masih ada usia, atau tidak.

Selasa, 21 September 2021

Penyelam yang Malang

Pernah ada seseorang yang dilepaskan di laut tanpa diajarkan caranya berenang. Tidak diberi kesempatan untuk belajar. Caranya mungkin berbeda dengan orang kebanyakan. Waktu yang ia butuhkan pun boleh jadi tak sesingkat orang-orang.

Ia dipaksa menyelam sampai ke dasar tapi tak boleh kelelahan.
Ia bosan tapi tak boleh mencari hiburan.
Sesekali menabrak karang tapi tak sedikitpun boleh kesakitan.

Sayang sekali, dia memang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa dia itu lemah.
Sayang sekali, dia terlalu banyak memikirkan orang lain, sampai dirinya sendiri nyaris lupa bernafas di dalam air.

Pernah sekali dia muncul ke permukaan.
Mengambil nafas untuk bisa menyelam lebih dalam.
Tapi seseorang mengangkutnya ke atas kapal.
Sang pemilik lautan nyatanya tak rela ada penyelam yang tak mematuhi aturan.
Dikatakanlah, bahwa dia adalah seorang pembangkang.
Katanya, tempatnya bukan di laut nan dalam.

Akhirnya, dengan langkah berat dia kembali ke darat.
Nafas panjang yang sebelumnya diambil di permukaan, rasanya di kerongkongan ia terjerat.
JAHAT. Pikirnya hari itu.

Mereka menarik si penyelam ke darat saat dia sudah benar-benar siap untuk menjadi penyelam yang hebat.

Meski di sisi lain, ia juga sangat bersyukur karena pada akhirnya, ia bisa bernafas dengan lega.

Dia itu, Saya.

Rabu, 02 Juni 2021

Saya Hanya Terpaksa, Lalu Ayah Membuat Anak Saya Terbiasa.

 


Perbedaan pola asuh dalam keluarga memang wajar sekali ya bund. Jangankan antara orang tua dengan mertua, kadang malah suami-istri bisa punya cara asuh yang berbeda loh. Nah, hal-hal seperti ini yang sudah mesti dibicarakan jauh sebelum anak lahir ya moms...


Saya mau cerita sedikit.

Saya punya anak usia 2 tahun yang sudah mulai kecanduan gadget. Sedikit banyak, ia mulai tantrum kalau tidak dikasih gadget. Marah sekali saya melihatnya.

Sebenarnya saya pribadi tidak membiasakan anak untuk bermain dengan gadget sepanjang hari, tapi kebetulan memang saat ini saya masih tinggal bersama orang tua (kakek-neneknya anak-anak), jadi, bukan cuma saya yang mengasuh anak-anak.

Beberapa hari kemarin saya sempat berdebat dengan ayah saya (kakeknya anak-anak) tentang beliau yang terlalu sering kasih anak saya gadget dengan alasan "biar anteng" atau alasan lain yang sebenarnya gadget bukan solusi satu-satunya. Ayah saya lalu mengungkit apa yang pernah dilihatnya beberapa bulan lalu, beliau mengatakan bahwa saya yang mengenalkan gadget pada anak saya. Memang benar, saya mengenalkan anak dengan yout*be waktu usia anak masih 11 bulan. Hal itu semata bukan karena saya ibu yang tidak mau repot mengurus atau mengajak main anaknya sampai rela yout*be yang mengasuh anak saya. Tidak.

Waktu itu kami (aku dan keluarga kecil) masih mengontrak dan suami kerja dari pagi sampai sore. selama itu saya hanya berdua di kontrakan dengan si kecil. Tidak setiap saat anak saya anteng, malah dia sering sekali menangis di waktu-waktu saya harus shalat. HANYA PADA WAKTU SHALAT. Iya, saya menenangkannya dengan memberinya tontonan yout*be waktu itu, setiap saya shalat. Terbukti anak saya anteng sekali. Kejadian seperti ini tidak rutin terjadi setiap hari atau setiap waktu shalat, ini hanya saya lakukan ketika anak rewel saja. Dan hal ini tidak berlangsung lama, karena akhirnya harus pindah ke rumah orang tua.

Di sini ayah saya selalu memberinya gadget padahal saya sudah memfasilitasi anak dengan mainan edukasi yang lebih mendidik. Saya katakan, Ayah, mengenalkan dengan membiasakan itu berbeda sekali. Saya mengenalkannya dengan gadget di usianya yang masih 11 bulan itu karena terpaksa. Sekarang ayah membiasakannya menonton video yout*be dengan suka rela.

Begini, ibaratnya, saya hanya mengenalkan anak dengan kegiatan berenang, sekali atau dua kali saja. Lalu kemudian ayah mengajaknya setiap hari. Ia jadi terbiasa lalu tantrum setiap kali ingin berenang. Ia selalu ingin dituruti karena terbiasa seperti itu oleh kakeknya. Ketika yang terjadi hanya perkenalan, anak-anak tidak akan mungkin bisa langsung kecanduan, ayah. Kebiasaan yang membuat anak-anak akhirnya tidak bisa lepas dari apa yang digenggamnya selama ini.

Seharusnya ayah faham itu. Seharusnya ayah banyak belajar tentang bahaya gadget bagi anak-anak sebelum ayah menyerahkan cucu hebat ayah pada robot kecil itu.


Saya cuma mau cerita, termikasih sudah membaca. :)

Sabtu, 03 April 2021

Cuma Curhat.

Saya sudah mulai kehilangan diri saya yang dulu. Padahal dulu, saya tidak terlalu suka belajar di kelas. Saya lebih suka belajar di rumah. Di kelas itu cuma tempat untuk unjuk gigi, bahwa saya bukan siswi biasa, saya pintar. Nah, proses belajar di rumah itu yang mendukung kegiatan unjuk gigi saya. Saya termasuk orang yang tidak mau kalah. Saya tidak suka step yang bertele-tele, itulah kenapa saya tidak pernah belajar iqra runtut dari iqra 1 sampai 6. Saya selalu belajar bagaimana caranya ketika di pengajian, saya sudah lebih dulu faham sebelum diajarkan atau dijelaskan. Ketika saya berada di tingkat iqra 4, saya sudah mati-matian belajar iqra 6, bahkan juz 'amma dan selalu ingin guru ngaji saya tahu, bahwa saya sudah tidak ingin berada di kelas iqra 4.


Di Sekolah Menengah Pertama, saya tidak pernah tidak belajar sebelum berangkat sekolah. Bangun tidur, sebelum berangkat, pulang sekolah hingga sebelum tidur yang saya lakukan hanya belajar sampai ibu sering memarahi saya karena saya lebih suka buku daripada sapu. "Anak gadis itu mbok ya kerja, beres-beres rumah ngunu lho nduk. Jangan buku terus." begitu kalimat yang selalu saya dengar setiap selepas shubuh saat sedang bercumbu dengan buku. Padahal bapak selalu senang melihat saya yang tidak berhenti belajar. Bahkan saat sedang menulis surat cinta pun, bapak percaya anak gadisnya sedang menulis rumus-rumus fisika.

Saya bermain seperti anak-anak SMP pada umumnya, saya bermain handphone, saya pergi ke warnet, tapi saya tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi nomor satu di sekolah. Saya murid yang berhasil bertahan di peringkat pertama pada setiap semester.


Sampai di semester akhir kawan-kawan mulai bertanya tentang rahasia yang padahal saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya tidak pandai matematika, saya benci kesenian, saya tidak jago olah raga, saya alergi pelajaran sejarah, tapi setiap pembagian raport, peringkat pertama selalu diisi oleh nama saya. Beberapa kawan dan orang tua bertanya tentang rahasia yang saya hanya menjawab "doa ibu saya yang luar biasa," dan orang-orang seketika mengangguk percaya.

Hari ini saya menjadi nomor sekian. Orang-orang tak lagi memandang saya spesial. Saya hanya orang biasa. Saya sering tidur di kelas, di asrama lebih suka menghabiskan waktu untuk meracau atau menulis cerita, bahkan menonton drama. Saya sudah tidak suka buku-buku pelajaran. Di asrama, tidak ada bapak yang tersenyum lebar saat melihat saya belajar. Tidak ada yang berkata "rajinnya anak bapaaaakkk..." Juga tidak ada yang memberi saya makanan kecil saat otak saya mulai pening menatap tulisan-tulisan atau rumus matematika. 


Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...