Pernah banget nggak peduli sama penampilan, pernah banget nggak peduli sama yang namanya dandan, pernah banget kemana2 pake kets, celana, kerudung, dan ransel seadanya. Pernah banget satu gank sama laki2, jadi yang paling cantik disana. Pernah banget nge-bolang kemana2 sendirian, pernah banget kabur dari pesantren nggak pulang kerumah. Pernah banget. ๐
Lantas, masa lalu bisa seenaknya mendikte hari esok kita? Masa lalu bisa seenaknya menentukan baik/buruk masa depan kita? Tidak.
Kalau kau tahu, aku pernah di ejek sebab jilbab lebarku, pernah dicaci maki, dibilang pencitraan, dan tak tahu malu. Dimusuhi lantaran hijrahku. Tapi yang memusuhi justru sekarang jaaauuuhh lebih baik dari pada aku dalam pandanganku, jauh lebih taat, dan istiqomah hijrahnya.
Lihat, masa lalu tak berhak sedikit pun menjadi penentu, akan menjadi apa kita hari ini. Selama terus memperbaiki diri, kebaikan dimasa depan tak akan lari.
Percayalah. Semua punya masa lalu yang kelam. Dan semua berhak akan masa depan yang cemerlang. ๐
Senin, 06 April 2020
Minggu, 29 Maret 2020
Anak
Dari
aku, untukmu penggenap mimpiku.
Betapa
bahagianya andai aku bisa menjadi istri yang baik, untukmu, suami yang (semoga)
juga baik. Dengan begitu, satu mimpiku terbayar. Kini, masih ada satu mimpi
lagi. Ah, bukankah mimpi-mimpi itu tak akan pernah habis hingga kita
benar-benar sampai pada cita-cita yang hakiki, yakni bertemu sang Ilahi? Itulah
kenapa, segala mimpi harus tetap bermuara pada Dzat yang Abadi.
Jadi,
dear, satu lagi mimpiku setelah menjadi seorang istri. Iya, tentu saja kau tahu
itu. Menjadi ibu, adalah cita-cita terbesarku. Menyaksikan satu persatu
anak-anak kita tumbuh. Ah, bahagia sekali rasanya membayangkan ada
malaikat-malaikat kecil yang akan selalu menghibur hati.
Tapi,
dear…
Kau
harus tahu, ada banyak hal yang ingin sekali aku terapkan, bahkan hindarkan
ketika punya anak, nanti. Yang tentu kau juga akan banyak berperan. Karena tak
mungkin aku menerapkannya sendirian, bukan? Hehe…
Dear…
Sungguh,
aku tak ingin anakku nanti merasa bersalah telah lahir ke dunia. Tidak, kita
tidak akan membiarkan mereka hidup dengan ‘disalahkan’. Mereka harus
selalu mendapat support, dukungan. Mereka harus tahu, betapa kita selalu bangga
dengan kehadirannya. Setiap anak tentu akan membuat kesalahan. Tapi menyalahkan
bukan cara terbaik untuk mendidik.
Dear…
Segala
kebutuhan anak kita nanti harus benar-benar terpenuhi. Dari segala sisi,
terlebih kebutuhan hati dan rohani. Aku ingin mereka menjejaki dunia pendidikan
sejauh yang mereka inginkan. Tanpa ada biaya sepeserpun yang harus mereka
fikirkan. Tidak. Kita tidak akan membesarkan anak kita dengan prinsip-prinsip
dunia. Apalagi membuat mereka merasa seolah kehidupannya adalah beban bagi
orang tua. Oh, tidak, dear. Itu tidak akan terjadi. Ku pastikan mereka akan
tumbuh dengan pemahaman-pemahaman terbaik.
Sabtu, 28 Maret 2020
Suami
Dari aku, untukmu calon ayah
dari anak-anakku.
Aku adalah perempuan lajang,
masih sendiri. Tentangmu, sedikitpun masih belum ku ketahui. Tapi kau harus
tahu, betapa aku beruntung saat tahu ada laki-laki segagah kau yang berani
menghadap ayahku.
Kau tahu, dear?
Impianku tak pernah sederhana
tentang sebuah pernikahan. Aku tahu pernikahan bukan sebuah tuntutan, bukan
adat atau kebiasaan. Tidak perlu banyak prosesi atau pesta-pesta bergengsi. Pernikahan
adalah satu jalan penyempurnaan. Maka akan butuh komitmen yang tidak sederhana.
Berjanji untuk tetap setia beriringan, berjalan menuju syurga bersama-sama.
Dear…
Kau fikir, aku takut jika
kau-seseorang yang datang meminangku- adalah orang yang sederhana? Atau miskin
harta? Oh, tidak dear. Betapa lebih menakutkannya andai aku akan bersama dengan
orang yang miskin ilmu dan tanggung jawab.
Tak apa, dear. Kau tak perlu
takut atau minder jika bukan kemewahan yang bisa kau tawarkan sebagai mahar
pernikahan. Bukankah Allah selalu menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya? (ูุฑูุฏ ุงููู ุจูู
ุงููุณุฑู
ู ูุง ูุฑูุฏ ุจูู
ุงูุนุณุฑ). Ah,
terlalu keji rasanya jika aku yang bukan Tuhan justru bermaksud untuk
menyulitkanmu.
Tapi,
dear, atas segala kriteria yang aku harapkan, aku masih harus menyesuaikan. Bukankah
picik sekali jika aku ingin disatukan dengan yang baik, sedang aku sendiri
enggan memperbaiki diri?
Tapi tentu,
aku boleh melakukannya hanya karena ketaatan pada-Nya. Bukan demi kamu. J
Seseorang Part.4
Kau ingat seseorang yang aku
ceritakan kemarin?
Ia sudah sangat sakit sampai saat
ini.
Andai mati adalah solusi,
Barangkali nyawa sudah dikeluarkan
dari dalam diri.
Baginya, hidup sudah tak berarti
lagi.
Ramai sudah tak mampu mengusir sepi
di dalam hati.
Berfikir ingin kembali menjadi ‘si
kecil’.
Tapi, ah… Masa kecilnya sama
menyakitkan dengan hari ini.
Tak ada penghargaan atas setiap
kebaikan.
Hanya kemarahan atas kesalahan dan
kealpaan-kealpaan.
Tak ada dukungan.
Hanya paksaan-paksaan.
Tak dibiarkan membuat jalannya
sendiri.
Hanya harus berjalan pada ketentuan
yang sudah berdiri.
Gadis itu seperti boneka di rumahnya
sendiri.
Lelah.
Tak hidup. Tetapi juga tak mati.
Seseorang itu; Aku.
Jumat, 27 Maret 2020
Seseorang Part.3
Aku sudah pernah bercerita.
Tentang seseorang yang hatinya selalu bimbang.
Tentang kesabaran yang habis dimakan
api kesabaran.
Seorang pemberontak berwajah tenang.
Yang senyum manisnya menyimpan jutaan dendam.
Ingatkah?
Hari ini ia sakit.
Tak ada luka di sekujur tubuhnya.
Tapi hati dan perasaannya, jelas berdarah-darah.
Tak ada lagi yang sudi menjenguknya.
Layaknya seorang sebatang kara.
Ia tak punya siapa-siapa di dalam sepinya.
Hujan dunia adalah air matanya.
Panas dunia adalah kemarahannya.
Ia lelah.
Ingin segera mengakhiri semuanya.
Tapi ia takut mengambil jalan yang salah.
Kamis, 26 Maret 2020
Seseorang Part.2
Kau ingat ‘seseorang’ yang aku
ceritakan?
Sungguh memprihatinkan.
Ia sungguh tak peduli pada siapa
pun yang tidak mempedulikannya.
Ia sungguh tak peduli pada siapa
pun yang yang tidak mempercayainya.
Ia tak butuh orang-orang seperti
mereka.
Hatinya telah mati.
Mati untuk sekedar menanggapi
orang-orang yang hanya bisa
menyakiti.
Entah dendam, atau hanya percikan
api kemarahan sudah memakan
kesabaran.
Ia kini benar-benar menjelma ‘pemberontak
berwajah tenang’.
Hari ini,
Lagi-lagi ia bimbang.
Haruskah segala kebaikan ia
pertahankan,
Atau mati sebagai pendendam.
Rabu, 25 Maret 2020
Seseorang Part.1
Kau tahu?
Bahwa ada seseorang yang menyimpan
banyak air mata di balik tawanya.
Di sekitarmu.
Ya, ia dekat.
Ada yang menahan banyak pilu
di sebalik kekonyolannya di hadapanmu.
Kau takkan tahu.
Di dalam dadanya, tergores jutaan luka.
Darah dan nanah di mana-mana.
Hanya dibalut kasa tua bernama
kesabaran.
Kebaikannya diabaikan.
Segala prestasi tak dihargai.
Api semangatnya padam.
Hari ini, ia bimbang.
Haruskah langkahnya ia lanjutkan,
Atau berhenti sebagai pecundang.
Langganan:
Postingan (Atom)
Best of...
Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak
Oleh: Galuh Za Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...
-
"Bun... Si dedek nangis. Maaf ya ayah langsung berangkat." Kecup suamiku di keningku. Suatu kebiasaan setiap pagi, seb...
-
Oleh: Galuh Za Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...
-
Aku terlahir dari ibu yang barangkali tidak pernah ditanya 'kapan menikah' karena memang ia menikah muda. Juga tidak banyak mendapat...
