About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Selasa, 21 September 2021

Penyelam yang Malang

Pernah ada seseorang yang dilepaskan di laut tanpa diajarkan caranya berenang. Tidak diberi kesempatan untuk belajar. Caranya mungkin berbeda dengan orang kebanyakan. Waktu yang ia butuhkan pun boleh jadi tak sesingkat orang-orang.

Ia dipaksa menyelam sampai ke dasar tapi tak boleh kelelahan.
Ia bosan tapi tak boleh mencari hiburan.
Sesekali menabrak karang tapi tak sedikitpun boleh kesakitan.

Sayang sekali, dia memang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa dia itu lemah.
Sayang sekali, dia terlalu banyak memikirkan orang lain, sampai dirinya sendiri nyaris lupa bernafas di dalam air.

Pernah sekali dia muncul ke permukaan.
Mengambil nafas untuk bisa menyelam lebih dalam.
Tapi seseorang mengangkutnya ke atas kapal.
Sang pemilik lautan nyatanya tak rela ada penyelam yang tak mematuhi aturan.
Dikatakanlah, bahwa dia adalah seorang pembangkang.
Katanya, tempatnya bukan di laut nan dalam.

Akhirnya, dengan langkah berat dia kembali ke darat.
Nafas panjang yang sebelumnya diambil di permukaan, rasanya di kerongkongan ia terjerat.
JAHAT. Pikirnya hari itu.

Mereka menarik si penyelam ke darat saat dia sudah benar-benar siap untuk menjadi penyelam yang hebat.

Meski di sisi lain, ia juga sangat bersyukur karena pada akhirnya, ia bisa bernafas dengan lega.

Dia itu, Saya.

Rabu, 02 Juni 2021

Saya Hanya Terpaksa, Lalu Ayah Membuat Anak Saya Terbiasa.

 


Perbedaan pola asuh dalam keluarga memang wajar sekali ya bund. Jangankan antara orang tua dengan mertua, kadang malah suami-istri bisa punya cara asuh yang berbeda loh. Nah, hal-hal seperti ini yang sudah mesti dibicarakan jauh sebelum anak lahir ya moms...


Saya mau cerita sedikit.

Saya punya anak usia 2 tahun yang sudah mulai kecanduan gadget. Sedikit banyak, ia mulai tantrum kalau tidak dikasih gadget. Marah sekali saya melihatnya.

Sebenarnya saya pribadi tidak membiasakan anak untuk bermain dengan gadget sepanjang hari, tapi kebetulan memang saat ini saya masih tinggal bersama orang tua (kakek-neneknya anak-anak), jadi, bukan cuma saya yang mengasuh anak-anak.

Beberapa hari kemarin saya sempat berdebat dengan ayah saya (kakeknya anak-anak) tentang beliau yang terlalu sering kasih anak saya gadget dengan alasan "biar anteng" atau alasan lain yang sebenarnya gadget bukan solusi satu-satunya. Ayah saya lalu mengungkit apa yang pernah dilihatnya beberapa bulan lalu, beliau mengatakan bahwa saya yang mengenalkan gadget pada anak saya. Memang benar, saya mengenalkan anak dengan yout*be waktu usia anak masih 11 bulan. Hal itu semata bukan karena saya ibu yang tidak mau repot mengurus atau mengajak main anaknya sampai rela yout*be yang mengasuh anak saya. Tidak.

Waktu itu kami (aku dan keluarga kecil) masih mengontrak dan suami kerja dari pagi sampai sore. selama itu saya hanya berdua di kontrakan dengan si kecil. Tidak setiap saat anak saya anteng, malah dia sering sekali menangis di waktu-waktu saya harus shalat. HANYA PADA WAKTU SHALAT. Iya, saya menenangkannya dengan memberinya tontonan yout*be waktu itu, setiap saya shalat. Terbukti anak saya anteng sekali. Kejadian seperti ini tidak rutin terjadi setiap hari atau setiap waktu shalat, ini hanya saya lakukan ketika anak rewel saja. Dan hal ini tidak berlangsung lama, karena akhirnya harus pindah ke rumah orang tua.

Di sini ayah saya selalu memberinya gadget padahal saya sudah memfasilitasi anak dengan mainan edukasi yang lebih mendidik. Saya katakan, Ayah, mengenalkan dengan membiasakan itu berbeda sekali. Saya mengenalkannya dengan gadget di usianya yang masih 11 bulan itu karena terpaksa. Sekarang ayah membiasakannya menonton video yout*be dengan suka rela.

Begini, ibaratnya, saya hanya mengenalkan anak dengan kegiatan berenang, sekali atau dua kali saja. Lalu kemudian ayah mengajaknya setiap hari. Ia jadi terbiasa lalu tantrum setiap kali ingin berenang. Ia selalu ingin dituruti karena terbiasa seperti itu oleh kakeknya. Ketika yang terjadi hanya perkenalan, anak-anak tidak akan mungkin bisa langsung kecanduan, ayah. Kebiasaan yang membuat anak-anak akhirnya tidak bisa lepas dari apa yang digenggamnya selama ini.

Seharusnya ayah faham itu. Seharusnya ayah banyak belajar tentang bahaya gadget bagi anak-anak sebelum ayah menyerahkan cucu hebat ayah pada robot kecil itu.


Saya cuma mau cerita, termikasih sudah membaca. :)

Sabtu, 03 April 2021

Cuma Curhat.

Saya sudah mulai kehilangan diri saya yang dulu. Padahal dulu, saya tidak terlalu suka belajar di kelas. Saya lebih suka belajar di rumah. Di kelas itu cuma tempat untuk unjuk gigi, bahwa saya bukan siswi biasa, saya pintar. Nah, proses belajar di rumah itu yang mendukung kegiatan unjuk gigi saya. Saya termasuk orang yang tidak mau kalah. Saya tidak suka step yang bertele-tele, itulah kenapa saya tidak pernah belajar iqra runtut dari iqra 1 sampai 6. Saya selalu belajar bagaimana caranya ketika di pengajian, saya sudah lebih dulu faham sebelum diajarkan atau dijelaskan. Ketika saya berada di tingkat iqra 4, saya sudah mati-matian belajar iqra 6, bahkan juz 'amma dan selalu ingin guru ngaji saya tahu, bahwa saya sudah tidak ingin berada di kelas iqra 4.


Di Sekolah Menengah Pertama, saya tidak pernah tidak belajar sebelum berangkat sekolah. Bangun tidur, sebelum berangkat, pulang sekolah hingga sebelum tidur yang saya lakukan hanya belajar sampai ibu sering memarahi saya karena saya lebih suka buku daripada sapu. "Anak gadis itu mbok ya kerja, beres-beres rumah ngunu lho nduk. Jangan buku terus." begitu kalimat yang selalu saya dengar setiap selepas shubuh saat sedang bercumbu dengan buku. Padahal bapak selalu senang melihat saya yang tidak berhenti belajar. Bahkan saat sedang menulis surat cinta pun, bapak percaya anak gadisnya sedang menulis rumus-rumus fisika.

Saya bermain seperti anak-anak SMP pada umumnya, saya bermain handphone, saya pergi ke warnet, tapi saya tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi nomor satu di sekolah. Saya murid yang berhasil bertahan di peringkat pertama pada setiap semester.


Sampai di semester akhir kawan-kawan mulai bertanya tentang rahasia yang padahal saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya tidak pandai matematika, saya benci kesenian, saya tidak jago olah raga, saya alergi pelajaran sejarah, tapi setiap pembagian raport, peringkat pertama selalu diisi oleh nama saya. Beberapa kawan dan orang tua bertanya tentang rahasia yang saya hanya menjawab "doa ibu saya yang luar biasa," dan orang-orang seketika mengangguk percaya.

Hari ini saya menjadi nomor sekian. Orang-orang tak lagi memandang saya spesial. Saya hanya orang biasa. Saya sering tidur di kelas, di asrama lebih suka menghabiskan waktu untuk meracau atau menulis cerita, bahkan menonton drama. Saya sudah tidak suka buku-buku pelajaran. Di asrama, tidak ada bapak yang tersenyum lebar saat melihat saya belajar. Tidak ada yang berkata "rajinnya anak bapaaaakkk..." Juga tidak ada yang memberi saya makanan kecil saat otak saya mulai pening menatap tulisan-tulisan atau rumus matematika. 


Senin, 29 Maret 2021

Ikhlas

 Tidak semua hal di dunia ini mendapat restu semesta setelah kita berserah sebagaimana Zulaikha yang mendapatkan cinta Yusuf setelah berhasil mengikhlaskan semua kisahnya. Beberapa mendapat bagian yang berbeda.

Seperti aku yang terlalu mengharapkanmu sampai namamu mengisi sebagian ruang di hatiku meski tak menggantikan-Nya. Aku menginginkanmu dengan terlalu sampai perasaanku justru malah membuat-Nya cemburu. Dia adalah satu dan tak mau ada hal lain di hatiku, termasuk kamu.

Mencoba ikhlas mungkin juga tak akan membuatmu menjadi milikku, tapi kau benar, setidaknya, saat semesta memisahkan dan memaksa kita untuk menerima takdir yang baru, tak ada yang membuat kita kembali tergugu.

Jumat, 26 Maret 2021

Jangan Tanya Kapan Aku Mati Karena Aku Tidak Tahu Jawabannya.



Aku terlahir dari ibu yang barangkali tidak pernah ditanya 'kapan menikah' karena memang ia menikah muda. Juga tidak banyak mendapat pertanyaan 'kapan punya momongan' karena masa 'kosong'nya tak terlalu lama.

Tapi hidupku jauh dari pengalaman-pengalaman semacam itu. Aku harus mengalami masa belajar yang lebih lama dan itu berarti masa lajang yang juga lebih lama. Lalu orang-orang mulai usil melontarkan pertanyaan 'kapan'nya dari mulut-mulut mereka. Mulai dari 'kapan wisuda?', 'kapan menikah?' dan kapan-kapan yang lain.

Ibu dan ayah sebenarnya hanya memintaku fokus pada apa yang di depan mata; belajar. Tapi orang-orang tetap ingin mendapat jawaban atas banyak pertanyaan 'kapan'.

Aku mulai penasaran kenapa yang bertanya adalah mereka yang nasibnya denganku tak jauh beda? Karena aku masih memaklumi andai pertanyaan 'kapan menikah' itu dilontarkan oleh mereka yang sudah lebih dulu melepas status lajangnya. Tapi sesama lajang bahkan yang usianya tidak lebih muda? Aku tak faham lagi isi kepalanya.

Selepas menikah orang-orang masih tetap melontarkan 'kapan'nya. Awal-awal pernikahan aku masih bisa menjawabnya dengan senyuman; "doain aja ya". Tapi seiring waktu pertanyaan 'kapan' itu mulai mengganggu. Aku mulai sering menangis karena tak bisa menjawabnya. Bukan ingin menjawab pertanyaan mereka, tapi karena aku pun ingin cepat mendapat jawaban untuk diriku sendiri.

Sudah tahun ke-3 sejak pertanyaan 'kapan menikah' itu hilang dan berganti 'kapan punya momongan', hari ini, si kecil lahir dan aku fikir 'kapan' itu ikut berakhir. Ternyata masih ada 'kapan' selanjutnya. 'Kapan si kecil punya adik?"

Setelah banyak pertanyaan 'kapan' membuatku menghabiskan waktu untuk melamun bahkan sesekali menangis, kali ini, kumohon jangan tanya kapan aku mati karena aku tidak tahu jawabannya.

Selasa, 23 Maret 2021

Manusia Sombong

 Jika saja semua kayu menolak saat akan dipahat, maka boleh jadi tidak akan ada kayu yang lebih berharga. Semua hanya kayu biasa dan akan melapuk pada akhirnya tanpa ada yang peduli nilainya.

Jika saja semua besi menolak saat akan dipanaskan, maka boleh jadi tidak akan ada besi yang punya harga melangit di pasar dunia. Semua akan terlihat sama saja. Akan berkarat pada akhirnya.

Jika saja semua kain menolak saat akan dijahit, maka boleh jadi tidak akan ada manusia yang diagungkan sebab pakaian yang dikenakannya. Para manusia akan telanjang dan tak ada yang akan mendapat julukan 'si miskin' dan 'si kaya'. Tak akan ada yang berbeda dari kain-kain di mana saja. Semua sama. Selembar kain yang tak ada harganya. Tak ada nilainya.

Jika saja semua manusia menolak saat kritik pedas dan nasehat orang lain ditujukan padanya, maka boleh jadi tidak akan ada orang-orang yang menjadi luas cara berfikirnya, yang lebih bernilai hidupnya dan lebih cerah masa depannya.

Orang-orang yang hidupnya terlihat bahagia itu jangan-jangan juga adalah kayu yang dulunya rela dipahat, besi yang tak enggan dipanaskan dan kain yang tidak menolak untuk dijahit.

Sedang kita, orang-orang yang masih saja menatap langit dengan mendongakkan kepala hanyalah orang-orang angkuh yang selalu merasa tak butuh. Kritik orang lain hanya dianggap keusilan padahal beberapa memang tulus menginginkan kita menjadi lebih baik.

Alih-alih menjadi diri sendiri, sebenarnya kita hanya sedang memberi makan ego agar ia tumbuh lebih besar lagi. Kita terlalu sombong dengan menolak nasehat orang lain dan menganggap mereka sebagai pengganggu.

Sore ini, mari renungkan, mana kritik yang membangun, dan mana yang memang hanya tak rela melihat kita melangkah anggun.

Jumat, 19 Maret 2021

Kalah Telak

 Aku pernah memintamu datang beberapa waktu lalu. Tapi kau menolak dengan alasan yang tak hanya satu. Langkahmu terlihat maju tapi tatap matamu terlalu ragu. Kau kalah telak.

Berkali kau yakinkan aku bahwa kita adalah sepasang kaki yang salah satu tak boleh berhenti demi tujuan yang pasti. Tapi akhirnya, aku sampai sebelum langkahmu sempat kau mulai.

Katamu banyak hal yang harus dipertimbangkan, tapi yang kulihat adalah kau tak punya keseriusan. Usiamu bukan lagi titik yang mengajak bermain di taman kanak-kanak. Tapi untuk sebuah keputusan, kau kalah telak.

Kau mengulur waktu terlalu banyak.

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...