About Me

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Introvert.

Jumat, 27 Maret 2020

Seseorang Part.3


Aku sudah pernah bercerita.
Tentang seseorang yang hatinya selalu bimbang.
Tentang kesabaran yang habis dimakan
api kesabaran.
Seorang pemberontak berwajah tenang.
Yang senyum manisnya menyimpan jutaan dendam.
Ingatkah?
Hari ini ia sakit.
Tak ada luka di sekujur tubuhnya.
Tapi hati dan perasaannya, jelas berdarah-darah.
Tak ada lagi yang sudi menjenguknya.
Layaknya seorang sebatang kara.
Ia tak punya siapa-siapa di dalam sepinya.
Hujan dunia adalah air matanya.
Panas dunia adalah kemarahannya.
Ia lelah.
Ingin segera mengakhiri semuanya.
Tapi ia takut mengambil jalan yang salah.


Kamis, 26 Maret 2020

Seseorang Part.2


Kau ingat ‘seseorang’ yang aku ceritakan?
Sungguh memprihatinkan.
Ia sungguh tak peduli pada siapa
pun yang tidak mempedulikannya.
Ia sungguh tak peduli pada siapa
pun yang yang tidak mempercayainya.
Ia tak butuh orang-orang seperti
mereka.
Hatinya telah mati.
Mati untuk sekedar menanggapi
orang-orang yang hanya bisa menyakiti.
Entah dendam, atau hanya percikan
api kemarahan sudah memakan kesabaran.
Ia kini benar-benar menjelma ‘pemberontak
berwajah tenang’.
Hari ini,
Lagi-lagi ia bimbang.
Haruskah segala kebaikan ia pertahankan,
Atau mati sebagai pendendam.

Rabu, 25 Maret 2020

Seseorang Part.1


Kau tahu?
Bahwa ada seseorang yang menyimpan
banyak air mata di balik tawanya.
Di sekitarmu.
Ya, ia dekat.
Ada yang menahan banyak pilu
di sebalik kekonyolannya di hadapanmu.
Kau takkan tahu.
Di dalam dadanya, tergores jutaan luka.
Darah dan nanah di mana-mana.
Hanya dibalut kasa tua bernama
kesabaran.
Kebaikannya diabaikan.
Segala prestasi tak dihargai.
Api semangatnya padam.
Hari ini, ia bimbang.
Haruskah langkahnya ia lanjutkan,
Atau berhenti sebagai pecundang.

Surprise…



            Bahagia sekali rasanya mempunyai suami sepertimu.  Awal-awal kita menikah dulu, kau selalu menutupi kesalahanku di hadapan ibumu. Saat masakanku terlalu asin, kau bilang; “itu aku yang nyuruh, bu. Lagi pengen makan yang asin-asin.” Atau kalau goreng ikanku gosong, kau juga akan mencari alasan; “itu juga aku yang minta, bu. Lagi pengen makan yang item-item.” Ibumu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Kamu dan aku sebenarnya tahu, ibu tak akan marah. Tapi kau selalu bertingkah seolah masakanku akan membuat ibu sangat murka. Lebay.
            Aku belajar lagi dan lagi. Belajar banyak hal. Belajar untuk menjadi istri, menantu, koki, bendahara, sampai tukang pijat, untukmu. Juga untuk ibu. Aku bahagia punya ibu mertua yang begitu baik memperlakukanku. Nyaris semua kawan-kawanku yang sudah menikah, punya keluhan yang sama soal mamah mertua mereka. Aneh, di sini, aku malah sibuk bersyukur punya kamu dan ibu.
            Berbulan-bulan pernikahan belum juga ada tanda-tanda kita akan punya momongan. Kau dan ibu tak terlalu khawatir, aku lega, meski masih kefikiran juga. Ibu hanya bilang; “Gusti Allah ngasih kalian waktu untuk pacaran dulu, nduk. Nanti kan, kalau sudah ada momongan, ribet juga jalan-jalannya.” Aku tersenyum menanggapi kaliamat ibu. Kau dan ibu memang selalu pandai dalam urusan menghilangkan kekhawatiran. Bersamamu dan ibu, rasanya tak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul.
            Tepat satu tahun usia pernikahan, kabar bahagia itu datang. Aku sudah telat dua bulan, dan gejala-gejala kehamilan pun menyerang. Aku sudah testpack tadi pagi-pagi sekali. Kali ini aku memakai testpack terbaik untuk memastikan keakuratannya. Positive. Bahagia sama sekali tak bisa disembunyikan. Tapi aku bertahan untuk tidak mengabarimu karena ingin ku buat kejutan makan malam untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita, juga memberi kabar bahwa kau akan segera menjadi ayah.
            Kau berangkat kerja seperti biasa. Aku mencium tanganmu dan kau balas memelukku erat. Aku seperti tak ingin melepas pelukan itu. Aku rindu. Padahal setiap hari kau di dekatku.
            Sore ini aku memasak banyak dibantu ibu. Menyiapkan kejutan untuk menyambutmu. Kau pasti senang. Sesuatu yang kau harapkan akhirnya datang selepas banyak kesabaran. Ini hadiah terindah dari Tuhan.
            Aku tak bisa membayangkan wajah bahagiamu mendengar kabar kehamilanku. Aku tak bisa menerka apa yang akan kau lakukan setelah mendengar kabar bahagia itu. Aku benar-benar tak sabar menyambutmu pulang.
            Malam datang dan kau belum juga pulang. Aku memakai pakaian terbaik dan berdandan. Aku harus terlihat cantik malam ini. Ini malam spesial.

            Aku sedang berbincang dengan ibu saat mendengar suara mobil datang. Terparkir rapih. Tapi kau tak sendiri. ada banyak yang keluar dari mobilmu. Tidak, aku belum melihatmu. Ke mana kau?
ꙮꙮꙮ
            Malam itu benar-benar malam istimewa. Ternyata bukan hanya aku yang menyiapkan kejutan. Kau juga datang dengan sebuah kejutan. Kau memang perencana yang andal. Aku benar-benar tak bisa membaca tanda-tanda kejutan yang kau siapkan.
            Malam itu, kau pulang dengan tenang. Memaksaku menyiapkan sebuah pemakaman. Anak kita, yatim sebelum sempat bernyawa.

Selasa, 24 Maret 2020

Why




            Aku dibangunkan oleh suara merdu sahabatku yang mengaji tepat di sebelahku. Mataku berat, bengkak, seperti ada bertumpuk-tumpuk kelopak. Aku menangis berjam-jam setelah mendengar keputusanmu atas kelanjutan hubungan kita. Kau jahat.
            Aku menagih janjimu yang akan segera meminangku. Tapi kau, memilih berlepas tangan dari janji itu. Kau menyalahkan ketidaksabaranku, sedang aku sendiri marah akan kelabilanmu. Katamu, kau punya seseorang yang siap lebih sabar menunggu daripada aku. Lagi-lagi, kau jahat.
            Mungkin aku tak akan sesakit ini andai tak benar-benar jatuh cinta padamu. Untunglah, aku punya sahabat yang begitu baik menemaniku, mendengarkan, dan menghiburku. Katanya, apa-apa yang ditakdirkan untukku tak akan pernah melewatkanku, dan apa-apa yang melewatkanku, memang tidak ditakdirkan untukku. Dan kau, jelas melewatkanku.
            Setelah beberapa hari aku tersedu, akhirnya ikhlas hinggap di lubuk hatiku. Berkat nasehat-nasehat sahabat baikku itu, akhirnya aku bisa dengan lapang mengikhlaskanmu.
            Kau menghubungiku. Tepat saat hati sudah tak lagi terusik oleh bayangmu. Kau meminta kita bertemu, esok. Katamu, kalau aku tidak keberatan, kau akan mengenalkan wanita yang pernah kau sebut-sebut itu. Memang, ku fikir, tak mungkin ada yang baru andai kau benar mencintaiku. Sudahlah, aku sudah bisa tersenyum lebar, kini.
            Aku memakai pakaian terbaikku untuk menemuimu. Tampil sebaik mungkin agar kau tak tahu, berhari-hari sudah aku tersedu. Kafe tempat yang kau tentukan untuk pertemuan kita, adalah tempat yang tak jauh dari kampusku. Seusai kuliah, aku langsung menemuimu. Penasaran, seperti apa wanita yang menggantikanku itu.
            Dari depan kafe aku sudah bisa melihat kau sendiri. benar-benar tak ada siapapun di dekatmu. Aku berjalan perlahan mendekati. Kau hanya menatap tanpa ekspresi. Salam ku ucap dan kau jawab cepat. Aku memberi isyarat yang segera kau tangkap. Mana? Mataku bertanya tanpa suara. Kau begitu kikuk.
            Jantung berdetak dan waktu berdetik, mata sudah ratusan kali berkedip. Tapi kau, sama sekali tak memberi kepastian kapan wanitamu akan datang.
ꙮꙮꙮ
            Setelah beberapa jam kita lewatkan tanpa perbincangan, aku memutuskan untuk pulang. Menatap kesal kamu yang masih saja tenggelam dalam kebisuan. Aku pamit.
            Baru saja aku membalikkan badan saat seorang wanita anggun datang. Mendekatimu. Mungkinkah? Dia adalah sahabatku. Why?

Kalau kau adalah pencemburu.


Hari ini aku tidak akan lagi membahas COVID yang semakin sengit. Berita-berita melangit yang membuat dada semakin sempit. Hari ini, aku hanya ingin bercerita sedikit. Berkenalan sebagaimana kita tak saling kenal sebelumnya.
Dear, kau tahu? Aku hanya seorang wanita biasa. Pengolah rasa menjadi kata. Aku bisa romantis, tapi aku juga realistis. Hobiku menulis. Kadang tentangmu, atau tentang masalalu yang masih hidup dalam ingatanku. Bahkan barangkali juga tentang masa depan yang terus terbayang di setiap sebelum tidurku.
Kalau kau adalah seorang pencemburu, maka saranku jangan mendekatiku. Apalagi memilihku untuk menjadi pendamping seumur hidupmu. Sungguh kau akan tersiksa dengan keputusan itu. Kau akan terus membaca tulisanku dan berfikir aku belum bisa move on dari masa lalu. Kau akan menemukan sebuah tulisan seolah aku yang paling pandai membesar-besarkan sesuatu yang bahkan tak pernah pantas didebatkan.
Kata menjadi produk utama dari olahan rasa. Dan aku akan terus berproduksi selagi kewarasan masih terus terjaga. Siapapun kamu, semoga kau bukan seorang pencemburu. Siapapun kamu, semoga adalah yang tak akan mendebat masalaluku. Siapapun kamu.

Untukmu, semoga kau baca meski setelah kematianku.


Selasa, 24 Maret 2020.
            Hari ini masuk fase di mana penyebaran COVID-19 sudah sangat luas. Tercatat per-24 Maret 2020 COVID-19 ini meningkat hingga 686 kasus dengan data pasien sembuh belum mencapai setengahnya. Aku yang sejak lahir sudah mengalami banyak sekali hal luar biasa sebenarnya tak begitu heran dengan apa yang terjadi di tahun ini. Tahun yang seharusnya diisi dengan kesibukan diri menulis lembar-lembar skripsi, harus dihiasi oleh COVID-19 yang merabak ini. Skripsi masih imajinasi, ilusi, yang akhirnya berubah jadi lembar-lembar puisi. Catatan kecil di buku-buku kuliah sudah bukan lagi catatan kaki yang berisi pembahasan mata kuliah setiap hari. Menulis nama orang yang dicintai di sana-sini. Sudah bukan hal yang membingungkan lagi. Bertanya-tanya apa kabar doi, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang tak mungkin dilontarkan untuk saat ini.
            Untukmu, kau tahu? Aku menunggu hari berlalu sedang hari tak pernah memberi kabar apapun tentangmu. Pertanyaan ‘apa kabar?’ masih terus tertahan di kerongkonganku. Ingin ku kirim pesan ke nomor whats app-mu. Tapi apa daya, kau memutus akses melalui jalur itu. Tinggal di kota yang menjadi Zona Merah di Negerimu, kota ke-dua yang akhirnya harus dikunci oleh pemerintahmu, ingin sekali rasanya ditanyai olehmu. Atau setidaknya, aku tahu bahwa kau mengkhawatirkanku. Nyatanya tidak. Tak ada pertanyaan seputar kesehatanku, seputar kota tempat tinggalku, seputar kuliahku, kesibukanku, atau apapun tentang aku. Kau memilih pergi dan berlari. Menetralkan rasa agar kelak kau bisa kembali sebagai orang yang tak asing lagi. Katamu. Sebenarnya aku tak begitu setuju. Tapi kau, sungguh tak butuh persetujuan dariku perihal keputusanmu itu.
            Untukmu, jika kelak kau membaca ini, semoga masih tersisa ingatanmu tentangku. Mengirim e-mail atau apapun itu. Seberapa panjangnya pun waktu saat kau sudah mulai mengabarkanku. Perihal keadaanmu, tidak melulu soal rindu, karena kalimat yang kau susun untukku, sudah lebih dari cukup untuk aku bisa merasakan hadirmu. Di sini, aku memelukmu dari jauh. Dan jika aku harus mati di era COVID-19 ini, semoga kau sudah mengikhlaskan segala kisah yang tak sempat bertemu ujungnya.

Best of...

Idzinkan Saya Berzina Dengan Anak Bapak

  Oleh: Galuh Za   Awan hitam bergerumul di puncak gunung salak di hadapan Wisnu. Bertumpuk-tumpuk. Menutup sebagian awak gunung itu. ...